Minggu, 08 November 2026
11:53 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis

Amalgamasi

Bagikan:

Amalgamasi adalah perkawinan antarras atau antarsuku yang memiliki ciri fisik yang berbeda, sehingga menjadi satu rumpun. Kegiatan ini dilakukan untuk menghasilkan akomodasi pada dua kelompok sosial yang berbeda. Pada masa lampau, kerajaan-kerajaan saling menjalin hubungan politik melalui amalgamasi.[1] Sebuah bangsa baru dapat terbentuk setelah terjadi amalgamasi antara dua etnis atau dua ras yang berbeda.[2] Amalgamasi dapat terwujud apabila kelompok masyarakat sudah terintegrasi dengan baik dan teratur. Selain itu, sikap keterbukaan dan interaksi yang baik dari masing-masing pihak antara masyarakat tempatan dengan masyarakat etnik di Indonesia.[3]

Penggunaan istilah

istilah kuno sekarang sebagian besar untuk perkawinan dan antar pembiakan dari etnik yang berbeda atau ras. Di dunia berbahasa Inggris, istilah ini digunakan dalam abad kedua puluh. Di Amerika Serikat, sebagian diganti setelah 1863 dengan istilah perkawinan antara suku atau bangsa. Sementara itu, istilah amalgamasi bisa mengacu pada antar pembiakan yang berbeda putih maupun etnis non-putih, istilah perkawinan antara suku atau bangsa dimaksud antar pembiakan khusus untuk kulit putih dan non-putih, terutama Afrika-Amerika.[4]

Penggabungan istilah ini berasal dari metalurgi. Ini telah dikaitkan dengan metafora dari melting pot, yang juga berasal dari AS, dan yang menggambarkan asimilasi dan perkawinan antar budaya dari etnik yang berbeda. Perkawinan antar kulit putih dengan Amerika dan Afrika, dengan tingkat lebih rendah, non-putih itu sampai saat ini tidak disukai sosial di Amerika Serikat, meskipun sejarah panjang penghubung informal antara laki-laki kulit putih dan wanita kulit putih selama bertahun-tahun perbudakan dan setelah emansipasi. Sampai tahun 1967, perkawinan antar-ras dilarang di banyak negara bagian Amerika Serikat melalui undang-undang anti-perkawinan antara suku atau bangsa.

Syarat

Peristiwa amalgamasi sangat sulit terjadi dalam suatu masyarakat. Amalgamasi dapat terjadi jika terdapat dua kelompok etnis atau kelompok ras dengan kedudukan yang sangat berbeda. Satu kelompok etnis bertindak sebagai penguasa, sedangkan satu kelompok etnis lainnya sebagai bawahan penguasa. Amalgamasi dapat terjadi pada kondisi kesetaraan kedudukan antara kelompok etnis penguasa dan bawahan. Kelompok etnis penguasa memberikan kesetaraan secara sukarela ataupun memaksa kelompok bawahan. Kelompok penguasa memiliki keunggulan dan jumlah anggota yang melebihi kelompok bawahan, sehingga kelompok bawahan harus menerima keputusan dari kelompok penguasa demi menghindari ancaman bahaya.[5]

Referensi

  1. ↑ Suhardi dan Sunarti, S. (2009). Sosiologi 2 : Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPS (PDF). Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 208. ISBN 978-979-068-212-2. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2020-10-26. Diakses tanggal 2020-11-09.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan)
  2. ↑ Rahman 2011, hlm. 4.
  3. ↑ Kardiyan 2015, hlm. 2.
  4. ↑ Hollinger, David A. (Desember 2003). "Amalgamation and Hypodescent: The Question of Ethnoracial Mixture in the History of the United States". The American Historical Review. 108 (5). Indiana University: 1363–90. doi:10.1086/529971. Diakses tanggal 2008-07-15.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link)
  5. ↑ Rahman 2011, hlm. 5.

Daftar pustaka

  1. Rahman, M.T. (2011). Glosari Teori Sosial (PDF). Bandung: Ibnu Sina Press. ISBN 978-602-99802-0-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. Kardiyan (2015). "SETENGAH ABAD AMALGAMASI ANTARA ETNIS JAWA DENGAN ETNIS TEMPATAN DI DESA SIABU KECAMATAN SALO KABUPATEN KAMPAR" (PDF). Jom FISIP. 2 (2): 1–14. ISSN 2355-6919.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
Ikon rintisan

Artikel bertopik manusia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan