Rabu, 04 November 2026
17:49 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Pencederaan diri

Pencederaan diri

cedera yang disengaja pada tubuh sendiri tanpa niat untuk bunuh diri

Bagikan:
Pencederaan diri
Nama lainperilaku melukai diri sendiri, perilaku menyakiti diri sendiri, self-harm, self-injury
250px-SelfHarm2017.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bekas luka pada lengan bawah karena menyakiti diri sendiri.
SpesialisasiPsikiatri
GejalaBeberapa luka, tusukan, atau luka bakar[1]
Awitan umumRemaja[2]
Faktor risikoGangguan kepribadian ambang, Gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan zat, autisme, keputusasaan, teman yang melukai diri sendiri[1][3]
Metode diagnostikBerdasarkan gejala, setelah menyingkirkan kemungkinan adanya niat untuk bunuh diri[1]
PengobatanPembalutan, konseling[1][3]
ObatNaltrexone[1]
PrognosisBiasanya terselesaikan pada awal masa dewasa[3]
Frekuensi17% pada saat tertentu[4]

Pencederaan diri (bahasa Inggris:Self-harm) adalah perilaku yang disengaja untuk mencederai, menyakiti, dan melukai diri sendiri, tanpa berkeinginan untuk bunuh diri .[1][5] Contoh yang paling umum adalah melukai kulit secara langsung, biasanya dengan benda tajam atau panas.[1] Ini sering kali menimbulkan beberapa area cedera.[1] Metode lainnya bisa meliputi overdosis atau memukul diri sendiri.[5] Orang yang melakukan pencederaan diiri kerap merasa malu setelahnya.[6] Mereka juga hampir sepuluh kali lebih mungkin untuk mencoba bunuh diri .[4]

Pada umumnya perilaku ini dikaitkan dengan gangguan kepribadian ambang, gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan zat, dan autisme .[1] Namun, perilaku ini dapat muncul juga pada orang-orang yang tidak memiliki masalah kesehatan mental lain.[3] Hal lain yang terkait adalah keputusasaan, teman yang mencederai diri sendiri, dan sejarah penganiayaan .[3] Beberapa orang menggunakannya sebagai mekanisme penanggulangan untuk memberikan kelegaan sementara dari perasaan yang intens.[1] Ada pula yang berpendapat bahwa bisa saja hal ini digunakan sebagai bentuk hukuman diri, teriakan minta tolong, dan untuk mengatasi konflik interpersonal .[1]

Perilaku ini tidak mencakup praktik yang diterima secara sosial, misalnya tato atau tindik,[3] dan juga tidak termasuk cedera tidak langsung seperti yang mungkin terjadi akibat gangguan makan atau penyalahgunaan zat.[3] Tindakan awal yang mungkin diperlukan adalah membalut luka.[3] Penanganan jangka panjang meliputi penanganan kondisi-kondisi terkait, bersamaan dengan terapi perilaku kognitif .[1] Sebagian terapi mengembangkan cara yang lebih baik untuk menangani stres.[1] Beberapa orang mungkin dapat dibantu dengan naltrexone .[1]

Perilaku pencederaan diri paling umum terdapat pada remaja, dan kurang umum pada yang berusia lebih dari 18 tahun.[2][3] Pernah terdapat sekitar 17% orang memiliki perilaku ini..[4] Perempuan sekitar 1,7 kali lebih sering berperilaku ini dibandingkan laki-laki.[4] Kelompok lain yang lebih umum dengan perilaku ini meliputi LGBT, narapidana, dan veteran .[5] Angkanya cukup stabil antara tahun 2002 dan 2017.[3] Risiko bunuh diri lebih tinggi pada orang lanjut usia yang menyakiti diri sendiri.[7] Hewan yang dikurung, seperti burung dan monyet, juga mungkin berperilaku menyakiti diri sendiri.[8]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 "Nonsuicidal Self-Injury (NSSI) - Psychiatric Disorders". Merck Manuals Professional Edition (dalam bahasa Canadian English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Oktober 2021. Diakses tanggal 5 Februari 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 Hawton, K; Saunders, KE; O'Connor, RC (23 Juni 2012). "Self-harm and suicide in adolescents". Lancet (London, England). 379 (9834): 2373–82. doi:10.1016/S0140-6736(12)60322-5. PMID 22726518.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Brown, RC; Plener, PL (Maret 2017). "Non-suicidal Self-Injury in Adolescence". Current psychiatry reports. 19 (3): 20. doi:10.1007/s11920-017-0767-9. PMID 28315191.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 3 4 Gillies, D; Christou, MA; Dixon, AC; Featherston, OJ; Rapti, I; Garcia-Anguita, A; Villasis-Keever, M; Reebye, P; Christou, E (Oktober 2018). "Prevalence and Characteristics of Self-Harm in Adolescents: Meta-Analyses of Community-Based Studies 1990-2015". Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. 57 (10): 733–741. doi:10.1016/j.jaac.2018.06.018. PMID 30274648.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 3 "Self harm | Royal College of Psychiatrists". RC PSYCH ROYAL COLLEGE OF PSYCHIATRISTS (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Januari 2022. Diakses tanggal 5 Februari 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Gunnarsson, Nina Veetnisha (Agustus 2021). "The Self-perpetuating Cycle of Shame and Self-injury". Humanity & Society. 45 (3): 313–333. doi:10.1177/0160597620904475.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ National Institute for Clinical Excellence (2004). National Clinical Practice Guideline Number 16: Self-harm (PDF). The British Psychological Society. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2012-09-05. Diakses tanggal 2009-12-13.
  8. ↑ Jones IH, Barraclough BM (Juli 1978). "Auto-mutilation in animals and its relevance to self-injury in man". Acta Psychiatrica Scandinavica. 58 (1): 40–47. doi:10.1111/j.1600-0447.1978.tb06918.x. PMID 99981.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan