Kamis, 08 Oktober 2026
13:46 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Otot polos

Otot polos

otot penyusun bagian organ dalam dan bekerja secara tak sadar

Bagikan:
250px-Smooth_muscle_400x.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto otot polos dilihat melalui mikroskop cahaya dengan perbesaran 400x

Otot polos dikenal sebagai otot yang bekerja dibawah kesadaran saraf, berkontraksi secara perlahan dan otomatis dalam jangka waktu lama yang disebabkan banyaknya area filamen aktin dan miosin yang saling melekat.[1] Jaringan otot polos pada hewan vertebrata dan manusia tersusun atas kumpulan sel otot polos yang mekanisme kerjanya terlibat dalam kontraksi otot di organ dalam, seperti rahim, organ sistem pencernaan, organ sistem reproduksi, serta juga ditemukan pada sistem kardiovaskular termasuk saluran arteri dan vena.

Karakteristik

Otot polos pada umumnya memiliki bentuk menyerupai gelendong dengan bentuk runcing pada kedua ujung dan disetiap sel mengandung inti yang terletak di tengah.[2] Pada potongan melintang, akan tampak ukuran garis tengah yang bervariasi dan hanya garis berukuran lebih besar yang memiliki inti. Inti tersebut akan terlipat dan batas sel tampak bergelombang ketika otot polos berkontraksi.[3]

Otot polos pada setiap organ memiliki perbedaan dari aspek fungsi, dimensi fisik, respon terhadap stimulus, dan karakteristik persarafan. Otot polos tidak memiliki garis silang seperti pada otot lurik yang berasal dari sarkomer yang sangat terorganisasi di dalam sel.[4] Ciri umum yang membedakan sel-sel otot polos dengan sel lain adalah sebagian besar sitoplasma pada otot polos ditempati oleh aktin dan miosin yang dikhususkan untuk melakukan fungsi kontraksi. Secara dimensi, bagian tengah sel berdiameter antara 2 hingga 10 μm (mikrometer) serta panjang sel antara 100-200 μm, dengan ukuran paling panjang mencapai 600 μm.[5]

Organ-organ dalam yang dilapisi otot polos banyak ditemukan di bagian kontraktil saluran pencernaan dari pertengahan esofagus hingga ke anus dan saluran keluar organ pada sistem reproduksi, pernapasan, sistem urinalis, pembuluh darah (arteri dan vena), pembuluh limfe yang besar, lapisan dermis, iris dan korpus siliaris pada mata.[6]

Struktur

Sel otot polos tersusun atas miosin sebagai pembentuk filamen tebal dengan diameter 15-20 nm (nanometer) dan aktin sebagai pembentuk filamen tipis berdiameter 6-7 nm, yang terdapat di sekitar nukleus dan sebagian besar sitoplasma. Otot polos terbagi menjadi dua tipe berdasarkan persarafan dan fungsinya yaitu;[7] multi unit dan unit tungal atau disebut sebagai otot polos viseral atau singsitium. Setiap serat otot polos pada multi unit bekerja secara terpisah seperti pada bagian iris mata, berbeda dengan unit tunggal yang serat ototnya menyatu dan berkontraksi bersamaan, seperti pada usus, saluran empedu, saluran ureter, dan beberapa pembuluh darah.[8] Otot polos viseral atau unit tunggal ditandai oleh selaput sel yang menghubungkan membran sel yang berdekatan. Sel ini dikelilingi oleh matriks ekstraseluler yang saling berkumpul membentuk bundel sel. Sel-sel tersebut memiliki organel seperti nukleus, mitokondria, retikulum endoplasma halus dan kasar serta badan golgi.

Fungsi

Lapisan sel otot polos pada dinding organ berongga berfungsi sebagai tenaga penggerak untuk mengubah volume organ dan fleksibilitas dinding yang secara langsung berpengaruh terhadap fungsi fisiologis organ. Beberapa fungsi otot polos pada organ berongga diantaranya adalah memindahkan muatan di sepanjang saluran pencernaan melalui gerak peristaltik untuk membantu pencernaan dan pengumpulan nutrisi, membersihkan tubuh dari racun dengan mengosongkan dan mengurangi volume kandung kemih pada sistem saluran kemih atau pembuangan, serta mengendalikan respons lapisan kulit terhadap perubahan suhu.[9] Sel-sel otot polos juga membentuk lapisan media pada dinding arteri pembuluh darah bersama kolagen dan elastin,[10] yang berfungsi sebagai kontraksi dan elastisitas pembuluh darah.[11]

Mekanisme kontraksi

250px-1028_Smooth_Muscle_Contraction.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
kontraksi pada sel otot polos

Pada saat kontraksi sel-sel otot polos tidak hanya memendek tetapi juga seperti terpilin, bahkan terjadi perubahan bentuk nukleus pada sel otot polos. Filamen aktin pada otot polos tidak memiliki tripolin seperti pada otot rangka maupun jantung, tetapi kedua aktin dan miosin otot polos berkontraksi melalui mekanisme pergeseran filamen yang mirip seperti pada otot lurik.[12]

Pada tahap pertama kontraksi, kalsium yang bersumber dari ekstraseluler dan retikulum sarkoplasma akan masuk ke sitosol, kemudian membentuk kompleks dengan calmodulin (CaM), yaitu protein pada sitosol sel otot polos. Reaksi ini selanjutnya akan mengaktifkan enzim untuk fosforilase yang berfungsi untuk meningkatkan laju hidrolisis ATP di kepala miosin. Hidrolisis ATP akan menghasilkan ADP + piruvat dan menghasilkan miosin yang awalnya tidak aktif menjadi aktif. Ketika miosin aktif, ia akan mampu berikatan dengan filamen aktin dan membentuk jembatan silang (cross-bridge). Jembatan silang inilah yang pada prosesnya akan membentuk otot yang berkontraksi. Sebagian besar kalsium yang menyebabkan kontraksi otot polos masuk dari cairan ekstraseluler.[13]

Gangguan pada otot polos

Otot polos memiliki kemungkinan terkena serangan kanker, salah satunya adalah leimiosarkoma. Leimiosarkoma (LMS) adalah jenis kanker yang dapat menyerang otot polos yang disebabkan karena adanya pertumbuhan sel-sel otot polos yang tidak normal.[14] Tumor ganas ini sering terjadi di bagian perut (abdomen) tetapi dapat menyerang bagian tubuh manapun termasuk rahim, pembuluh darah, dan kulit. Kemunculan kanker pada bagian perut disertai dengan gejala nyeri, penurunan berat badan, rasa mual dan muntah.[15]

Referensi

  1. ↑ Editors, B. D. (2017-12-08). "Smooth Muscle". Biology Dictionary (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2021-01-31.{{cite web}}: |last= memiliki nama generik
  2. ↑ "Smooth muscle | anatomy". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-31.
  3. ↑ Pratiwi 2020, hlm. 63. sfn error: tanpa target: CITEREFPratiwi2020 (bantuan)
  4. ↑ Maugios, Vassilis (2019). Exercise Biochemistry. Human Kinetics. hlm. 144. ISBN 9781492572688.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Seow 2020, hlm. 3.
  6. ↑ Pratiwi 2020, hlm. 62. sfn error: tanpa target: CITEREFPratiwi2020 (bantuan)
  7. ↑ Pratiwi 2020, hlm. 65. sfn error: tanpa target: CITEREFPratiwi2020 (bantuan)
  8. ↑ Kuriyama, H.; Kitamura, K.; Itoh, T.; Inoue, R. (1998-01-07). "Physiological Features of Visceral Smooth Muscle Cells, With Special Reference to Receptors and Ion Channels". Physiological Reviews. 78 (3): 811–920. doi:10.1152/physrev.1998.78.3.811. ISSN 0031-9333.
  9. ↑ Seow 2020, hlm. 2.
  10. ↑ Djanggan 2015, hlm. 39. sfn error: tanpa target: CITEREFDjanggan2015 (bantuan)
  11. ↑ Djanggan 2015, hlm. 58. sfn error: tanpa target: CITEREFDjanggan2015 (bantuan)
  12. ↑ Pratiwi 2020, hlm. 64. sfn error: tanpa target: CITEREFPratiwi2020 (bantuan)
  13. ↑ Webb, R. Clinton (2003-12-01). "Smooth muscle contraction and relaxation". Advances in Physiology Education. 27 (4): 201–206. doi:10.1152/advan.00025.2003. ISSN 1043-4046.
  14. ↑ "Gawat, Otot Polos Ternyata Juga Bisa Kena Kanker". Alodokter. 2018-09-14. Diakses tanggal 2021-03-27.
  15. ↑ "Leiomyosarcoma - Overview - Mayo Clinic". www.mayoclinic.org. Diakses tanggal 2021-03-27.

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan