Jumat, 23 Oktober 2026
16:34 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Kelinci eropa

Kelinci eropa

Spesies mamalia

Bagikan:
Kelinci eropa
Oryctolagus cuniculus Suntingan nilai di Wikidata
250px-Oryctolagus_cuniculus_Tasmania_2_%28cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Suntingan nilai di Wikidata
Status konservasi
Taksonomi
SuperkerajaanHolozoa
KerajaanAnimalia
FilumChordata
KelasMammalia
OrdoLagomorpha
FamiliLeporidae
GenusOryctolagus
SpesiesOryctolagus cuniculus Suntingan nilai di Wikidata
Linnaeus, 1758
Tata nama
ProtonimLepus cuniculus Suntingan nilai di Wikidata
Distribusi
250px-Oryctolagus_cuniculus_distribution_Map.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Suntingan nilai di Wikidata
Artikel takson sembarang

Kelinci eropa (Oryctolagus cuniculus) atau coney[1] adalah spesies kelinci yang berasal dari Semenanjung Iberia (Spanyol, Portugal, dan Andorra) serta Prancis barat daya.[2] Spesies ini merupakan satu-satunya anggota yang masih hidup dalam genus Oryctolagus, yaitu genus hewan lagomorf. Kelinci eropa dewasa rata-rata berukuran lebih kecil dibandingkan terwelu eropa, meskipun ukuran dan beratnya bervariasi tergantung pada habitat dan pola makan. Karena riwayat domestikasi, pembiakan selektif, dan penyebaran ke habitat nonasli, kelinci eropa liar maupun peliharaan di berbagai belahan dunia dapat sangat bervariasi dalam ukuran, bentuk, dan warna.

Deskripsi

Kelinci eropa dewasa dapat mencapai panjang 40 cm dan berat antara 1,2 hingga 2,0 kg. Kaki belakangnya berukuran 8,5–10 cm, sedangkan telinganya memiliki panjang 6,5–7,5 cm dari tengkuk.[3] Kelinci eropa berukuran lebih kecil dibandingkan terwelu eropa (European hare) dan terwelu gunung (mountain hare), serta memiliki kaki yang proporsinya lebih pendek. Selain itu, kelinci ini tidak memiliki ujung telinga berwarna hitam seperti kedua jenis terwelu tersebut.[4]

Taksonomi

Awalnya dimasukkan ke dalam genus Lepus oleh Carl Linnaeus pada tahun 1758,[5] kelinci eropa kemudian ditempatkan dalam genus tersendiri, Oryctolagus, pada tahun 1874 oleh ahli zoologi Swedia Wilhelm Lilljeborg berdasarkan kebiasaannya membuat liang, anaknya yang lahir dalam keadaan buta dan tak berdaya, serta lubang hidungnya yang sempit[6]—semua ciri yang tidak ditemukan pada terwelu.[7] Secara sekilas, kelinci eropa tampak mirip dengan berekor kapas Amerika Utara (Sylvilagus), karena keduanya bersifat altrisial (lahir dalam keadaan buta dan tanpa bulu), memiliki daging berwarna putih, dan menunjukkan sedikit dimorfisme seksual. Namun, keduanya berbeda dalam ciri tengkorak, dan berekor kapas tidak membuat liang sendiri seperti yang dilakukan kelinci eropa.[8] Studi molekuler membuktikan bahwa kemiripan antara keduanya disebabkan oleh evolusi konvergen, dan kerabat terdekat kelinci eropa adalah kelinci hispid (Caprolagus hispidus), kelinci sungai (Bunolagus monticularis), dan kelinci amami (Pentalagus furnessi).[9]

Referensi

Bibliografi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan