Minggu, 01 November 2026
09:58 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pala papua

Pala papua

spesies tanaman penghasil rempah

Bagikan:
Pala papua
250px-Kebun_Pala_Tomandin_Fakfak.webp?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pala papua di Kebun Pala Tomandin Fakfak
250px-Suku_Mbaham-Matta_mengolah_buah_pala.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buah Pala papua sedang dipanen
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Magnoliidae
Ordo: Magnoliales
Famili: Myristicaceae
Genus: Myristica
Spesies:
M. argentea
Nama binomial
Myristica argentea

Pala papua (Myristica argentea) adalah pohon pala yang tumbuh di hutan hujan primer di Pulau Papua,[2] khususnya di hutan Fakfak, Kaimana, dan pulau-pulau sekitarnya di Indonesia Timur, seperti Kepulauan Aru. Pohon ini terkadang menjadi sumber pala, dan tanaman ini (atau bijinya) sering juga disebut pala makassar, pala fakfak, pala lonjong, atau pala silver.[2][3] Secara lokal di Indonesia, tanaman ini juga disebut tomandin, henggi, atau meri totora ("putri duyung") dalam bahasa Mbaham-Matta;[4] efu ("hati") dalam bahasa Irarutu.

Deskripsi

Daunnya tunggal dan tersusun secara spiral. Tangkai daun (petiolus) kokoh, memperlihatkan retakan melintang (transversal), beralur (channeled), dengan panjang 2,8 cm. Helaian daun mengilap, berukuran 20 cm × 6,4 cm – 13,5 cm × 5,6 cm – 19 cm × 6 cm, berbentuk elips, dengan ujung meruncing memanjang (akuminat) hingga menyerupai ekor, serta memiliki 13–18 pasang tulang daun sekunder. Perbungaannya berupa tandan (raceme) dengan panjang 4,5 cm. Buah berbentuk bulat (globose) dengan panjang 6 mm.

Buah Pala Papua berbentuk lebih lonjong dari pala Banda, berukuran sekitar 6,5 cm – 7,5 cm x 3,5 cm – 4,5 cm. Ujung buahnya menyempit, dan pangkal buahnya seperti menyempit membentuk tangkai palsu (pseudostalk) sepanjang 3 mm – 8 mm. Eksokarp berwarna cokelat saat masak, permukaannya hampir gundul (glabresen) dan umumnya dipenuhi lentisel atau tonjolan pucat yang kasar dan tampak mencolok. Perikarp relatif tebal dan akan terbelah menjadi dua katup (bivalvat) ketika buah masak sehingga memperlihatkan biji yang diselubungi fuli (arilus) berwarna merah cerah. Biji berbentuk elipsoid hingga lonjong berwarna cokelat tua, sedangkan fuli (arilus) berkembang menyelubungi biji secara tidak sempurna dan merupakan bagian yang dimanfaatkan sebagai rempah.[5][6]

Referensi

  1. ↑ Chadburn, H. (2020). "Myristica argentea". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2020 e.T144674963A144774444. doi:10.2305/IUCN.UK.2020-2.RLTS.T144674963A144774444.en. Diakses tanggal 15 Juni 2026.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 "Myristica argentea Warb". Plants of the World Online. Diakses tanggal 2024-01-07.
  3. ↑ "Myristica argentea". Useful Tropical Plants. Diakses tanggal 2024-01-07.
  4. ↑ Panduan Budidaya Pala Tomandin (PDF). Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak. Diakses tanggal 2025-01-24.
  5. ↑ Kusuma, Jakty; Couderc, Marie; Scarcelli, Nora; Duminil, Jérôme (2023-07-03). "Complete chloroplast genome of two nutmeg species, Myristica argentea Warb. 1891 and Myristica fatua Houtt. 1774 (Myristicaceae)". Mitochondrial DNA Part B. 8 (7): 751–755. doi:10.1080/23802359.2023.2233154. ISSN 2380-2359. PMC 10361002. PMID 37485420. Diakses tanggal 2026-06-28.
  6. ↑ Wahyuni, S; Bermawie, N (2020-01-01). "Yield and fruit morphology of selected high productive Papua nutmeg trees (Myristica argentea Warb.)". IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. 418 (1). IOP Publishing: 012032. doi:10.1088/1755-1315/418/1/012032. ISSN 1755-1307.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan