Sabtu, 26 September 2026
21:30 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Muhamad Musa

Muhamad Musa

Raden Hadji Moehamad Moesa
Potret Muhamad Musa
Lahir1822
Meninggal1886
Nama lainRaden Haji Muhamad Musa
PekerjaanSastrawan, Penghulu, Ulama
Dikenal karenaPengarang, pelopor kesusastraan cetak Sunda, ulama dan Tokoh Sunda abad ke-19.
Pasangan menikahRaden Ayu Ria
Anak
Orang tuaRaden Rangga Suryadikusumah
KerabatRaden Tumenggung Suria Angga Kartalegawa (cucu)
330px-thumbnail.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Teks Ayang-ayang gung pada artikel Soendasche Kinderliederen En Spelen dalam majalah tigamingguan Djawa dari Java-Instituut edisi No. 1 Januari-April 1921.
330px-Wawacan_Pandji_Woeloeng_karya_Moehamad_Moesa_terbitan_pertama_kali%2C_Tahun_1871._Sumber_Semangat_Baru_%282013%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wawacan Pandji Woeloeng terbitan pertama kali, Tahun 1871. Sumber: Semangat Baru (2013).

Raden Hadji Moehamad Moesa (1822 – 10 Agustus 1886, EYD V: Rd. H. Muhamad Musa) adalah pengarang, pelopor kesustraan cetak Sunda, ulama dan tokoh Sunda abad ke-19.

Raden Hadji Moehamad Moesa, salah satu karya tahun 1906 yaitu sejarah Abdoerahman en abdoerahim tahun 1906.

Biografi

Muhamad Musa dilahirkan di Garut sebagai keturunan bangsawan, putra Raden Rangga Suryadikusumah, Patih Kabupaten Limbangan. Ia kemudian dilepas untuk mengikuti pendidikan formal di sebuah pesantren di Purwakarta dan diajak ikut oleh ayahnya untuk berangkat haji ke Makkah saat masih muda. Ia menolak tawaran Pemerintah Hindia Belanda yang akan menjadikannya sebagai kepala gudang, karena ia lebih suka memilih bidang keagamaan. Setelah menjadi penghulu, pada tahun 1864 ia diangkat menjadi Penghulu Besar (Belanda: Hoofdpanghoeloe) di kabupaten Limbangan sampai wafatnya.

Muhamad Musa bersahabat erat dengan K. F. Holle, pengusaha perkebunan teh bangsa Belanda di Cikajang, yang merupakan penasehat Pemerintah Hindia Belanda mengenai bangsa pribumi (terutamanya di Priangan). Oleh Pemerintah Hindia Belanda ia sangat dipercayai.

Eratnya hubungan Musa dengan Holle menguntungkan kedua pihak. Bagi Musa, ia beruntung terutama karena mempermudah pergaulannya dengan bangsa Belanda. Musa oleh Pemerintah Hindia Belanda sangat dipercayai, sehingga oleh karena jasa-jasanya ia pernah dijanjikan jabatan tinggi hingga sampai tujuh turunan. Berkat eratnya persahabatan dengan Holle, Musa juga bisa mengembangkan bakat/minat menulis dan mengarangnya sehingga karya-karyanya (baik karangan sendiri maupun saduran atau terjemahan) bisa dicetak sampai ribuan eksemplar di Batavia. Di antara para putranya, yang mewarisi bakat menulisnya adalah Raden Ayu Lasminingrat dan Raden Karta Winata.

Karya-karyanya

Karya Muhamad Musa yang paling terkenal adalah Wawacan Panji Wulung yang terbit pada tahun 1871. Karya-karya lainnya yang dicetak di antaranya,

  • 1862: Wawacan Raja Sudibya, Wawacan Wulang Krama, Wawacan Dongéng-dongéng, Wawacan Wulang Tani;
  • 1863: Carita Abdurahman jeung Abdurahim, Wawacan Seca Nala;
  • 1864: Ali Muhtar, Élmu Nyawah;
  • 1865: Wawacan Wulang Murid, Wawacan Wulang Guru;
  • 1866: Dongéng-dongéng nu Aranéh;
  • 1867: Dongéng-dongéng Pieunteungeun;
  • 1872: Wawacan Lampah Sekar;
  • 1881: Santri Gagal, Hibat.

Pranala luar

Lihat juga

Rujukan

  • Mikihiro Moriyama. 2005. Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 979-9100-23-2.
  • Ajip Rosidi. 2000. Ensiklopedia Sunda. 2000. Pustaka Jaya, Jakarta.
  • Terrarum, O. (2006). West Meets East: Images of China and Japan, 1570 to 1920, Special Collections, De Beer Gallery, Central Library of the University of Otago, 10 February to 26 May 2006. New Zealand Journal of Asian Studies, 8, 122-179.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan