Senin, 05 Oktober 2026
04:48 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya

Meurah Johan dari Aceh

Bagikan:

Meurah Johan adalah sultan pertama Kerajaan Aceh yang memerintah dari tahun 601 H/1205 M sampai tahun 631 H/1234 M. Beliau mangkat pada hari Kamis, 1 Rajab 631 H dan dimakamkan di Gle Weueng, Aceh Besar.

Sejarah

Sekitar tahun 450-460 H (1059-1069 M), tentara Cina yang telah menduduki Kerajaan Indra Jaya (sekarang daerah Leupung) menyerang Kerajaan Indra Purba yang beribu kota di Lamuri, yang pada masa itu sedang diperintah oleh Maharaja Indra Sakti.

Ditengah berkecamuknya peperangan antara dua pasukan itu, tibalah di Lamuri 300 orang pasukan yang dikirim oleh Kesultanan Peureulak di bawah pimpinan seorang ulama, Syekh Abdullah Kan'an yang bergelar Syiah Hudan (turunan Arab dari Kan'an). Mereka datang dari pusat kegiatan ilmu dan militer, yaitu dari Dayah Cot Kala di Bayeuen. Di antara mereka termasuk Meurah Johan, putra dari Adi Genali atau Teungku Kawe Teupat, yang dirajakan di negeri Lingga.

Mereka mendapat izin untuk menetap dalam Kerajaan Indra Purba dengan mengambil tempat di Mamprai (dekat Sibreh) dan membuka kebun lada. Kemudian pasukan ini di bawah pimpinan Meurah Johan bersama-sama dengan pasukan Kerajaan Indra Purba menghadapi pasukan Cina, di mana akhirnya mereka kalah dan Lamuri menang yang membawa akibat Maharaja Indra Sakti dan seluruh rakyat Kerajaan Indra Purba masuk agama Islam. Untuk membalas jasa, Maharaja Indra Sakti yang telah masuk Islam, mengawinkan putrinya yang bernama Puteri Blieng Indra Keusuma dengan Meurah Johan.

Menurut catatan M. Yunus Jamil, bahwa tentera Cina yang menyerang Lamuri dipimpin oleh panglima perempuan yang bernama Nian Nio Lian Khi yang setelah dikalahkan oleh Meurah Johan, dia masuk Islam. Putri dari Nian Nio Lian Khi menyukai Meurah Johan, dan akhirnya dengan persetujuan istrinya Puteri Indra Keusuma dan Syekh Abdullah Kan'an, Meurah Johan mengawini Nian Nio yang kemudian namanya terkenal dengan sebutan Putroe Neng. Masuknya Putroe Neng kedalam Islam menyebabkan pasukan Cina yang bersamanya juga masuk Islam.

Dua puluh lima tahun kemudian, Maharaja Indra Sakti meninggal dunia, dan diangkatlah menantunya Meurah Johan menjadi raja Indra Purba dengan gelar Sulthan Alaiddin Johan Syah, dimana Kerajaan Indra Purba dijadikan kerajaan Islam dengan nama Kerajaan Darussalam dan ibu kota negara dibuat yang baru ditepi sungai Kuala Naga (sekarang Krueng Aceh ) dan dinamai Bandar Darussalam. Proklamasi ini berlangsung pada hari Jumat bulan Ramadhan 601 H (1205 M). Di samping membangun ibu kota negara yang baru Banda Darussalam, juga Sulthan Alaiddin Johan Syah mendirikan sebuah tempat peristirahatan (kota istirahat) di daerah pegunungan, pada suatu dataran tinggi yang bernama Gle Weueng, dibagian atas kampung Mamprai.[1]

Sumber

  1. ↑ Hasjmy, Ali (1983). Kebudayaan Aceh dalam Sejarah. Jakarta: Penerbit Beuna. hlm. 55–56.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan