Artikel ini perlu diwikifikasi agar memenuhi standar kualitas Wikipedia. Anda dapat memberikan bantuan berupa penambahan pranala dalam, atau dengan merapikan tata letak dari artikel ini.
Untuk keterangan lebih lanjut, klik [tampil] di bagian kanan.
|
Gaya atau nada penulisan artikel ini tidak mengikuti gaya dan nada penulisan ensiklopedis yang diberlakukan di Wikipedia. Bantulah memperbaikinya berdasarkan panduan penulisan artikel. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
| Masjid Agung Lawang Songo Lirboyo | |
|---|---|
Tampak dalam Masjid Agung Lawang Songo Lirboyo | |
| Agama | |
| Afiliasi | Islam |
| Lokasi | |
| Lokasi | Kawasan Pondok Pesantren Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Indonesia |
| Arsitektur | |
| Tipe | Masjid |
| Gaya | Jawa Kuno dan Negara Timur Tengah. |
Masjid Agung Lawang Songo adalah masjid yang terletak di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Masjid merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pondok pesantren dan digunakan oleh umat Islam untuk melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan, termasuk salat berjemaah. Keberadaan masjid di lingkungan pesantren berkaitan dengan kebutuhan santri untuk melaksanakan kegiatan ibadah.
Sejarah
Pendirian Masjid Lawang Songo dilatarbelakangi oleh perkembangan Pondok Pesantren Lirboyo yang semakin banyak menerima santri. KH. Sholeh Banjarmelati, mertua KH. Abdul Karim yang memberikan perhatian terhadap perkembangan pesantren tersebut, menganggap keberadaan masjid diperlukan untuk melengkapi fasilitas pesantren. Sekitar dua setengah tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo, tepatnya pada 1913, KH. Sholeh Banjarmelati menggagas pembangunan masjid di sekitar pondok.
Bangunan masjid pertama memiliki konstruksi sederhana dengan dinding dan atap yang terbuat dari kayu. Setelah digunakan selama beberapa waktu, bangunan tersebut mulai mengalami kerusakan. Pada suatu ketika, bangunan masjid hancur akibat diterjang angin puting beliung.
KH. Muhammad, kakak ipar KH. Abdul Karim, kemudian berinisiatif membangun kembali masjid tersebut dengan konstruksi yang lebih permanen. Untuk melaksanakan rencana tersebut, KH. Muhammad menemui KH. Abdul Karim guna meminta pertimbangan dan bermusyawarah. Selanjutnya, KH. Abdul Karim mengutus KH. Ya'qub, adik iparnya, untuk menemui KH. Ma'ruf Kedunglo dan berkonsultasi mengenai langkah-langkah pembangunan masjid.
Pertemuan antara KH. Ya'qub dan KH. Ma'ruf Kedunglo menghasilkan kesepakatan bahwa dana pembangunan masjid akan dihimpun melalui sumbangan para dermawan dan hartawan. Pembangunan tersebut selesai dalam waktu yang relatif singkat. Masjid kemudian diresmikan pada 15 Rabiulawal 1347 H atau 1928 M. Peresmian itu bertepatan dengan acara ngunduh mantu putri kedua KH. Abdul Karim, Nyai Salamah, dengan KH. Manshur dari Paculgowang.
Setelah pembangunan kembali, masjid berdiri dengan bangunan yang lebih kokoh dan megah serta memiliki mustaka yang menjulang tinggi. Dinding dan lantainya terbuat dari batu bata. Arsitekturnya memadukan gaya arsitektur Jawa kuno dengan gaya arsitektur Timur Tengah.
Atas prakarsa KH. Ma'ruf Kedunglo, jumlah pintu masjid yang semula hanya satu ditambah menjadi sembilan. Penambahan pintu tersebut dimaksudkan untuk mengenang masa kejayaan Islam pada abad pertengahan, khususnya pada masa Dinasti Fatimiyah. Jumlah sembilan pintu tersebut berkaitan dengan nama Lawang Songo, yang berarti sembilan pintu.