Selasa, 22 September 2026
07:33 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Ketilang Darwin

Ketilang Darwin

burung

Ketilang Darwin
ketilang darat besar, ketilang darat sedangketilang pohon kecil, ketilang pengicau hijau
ketilang darat besar, ketilang darat sedang
ketilang pohon kecil, ketilang pengicau hijau
Klasifikasi ilmiahSunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Passeriformes
Superfamili: Emberizoidea
Famili: Thraupidae
Kelompok yang termasuk

Ketilang Darwin (juga dikenal dengan nama ketilang Galápagos) adalah sebuah kelompok parafiletik yang terdiri dari 18 spesies burung pengicau.[1][2][3][4] Mereka dikenal dari keanekaragaman bentuk dan fungsi paruh mereka.[5] Mereka biasanya diklasifikasikan sebagai subfamili Geospizinae atau tribus Geospizini. Mereka tergolong ke famili tangara dan tidak berkerabat dekat dengan pipit sejati. Kerabat terdekat ketilang Darwin adalah Asemospiza obscura dari Amerika Selatan.[6] Mereka pertamakali dikumpulkan pada saat pelayaran kedua Beagle ke Kepulauan Galápagos dengan Charles Darwin di kapal sebagai naturalis. Semua jenis ketilang Darwin hanya dapat ditemukan di Kepulauan Galápagos, kecuali Pinaroloxias inornata (ketilang Cocos) yang berasal dari Kepulauan Cocos.

Istilah "ketilang Darwin" pertamakali diaplikasikan oleh Percy Lowe pada 1936, dan dipopulerkan oleh David Lack pada bukunya Darwin's Finches.[7][8] Lack mendasari analisisnya pada koleksi besar spesimen museum yang dikumpulkan oleh ekspedisi Galápagos tahun 1905-06 oleh Akademi Sains Kalifornia. Burung ini memiliki ukuran mulai dari 10 hingga 20 cm (4 hingga 8 in) dan berat antara 8 dan 38 gram (0,3 dan 1,3 oz). Yang paling kecil adalah Certhidea (ketilang pengicau) sementara yang terbesar adalah Platyspiza crassirostris (ketilang vegetarian). Perbedaan paling penting antara kelompok burung ini adalah bentuk paruhnya, yang sangat beradaptasi untuk memakan sumber-sumber makanan yang berbeda. Burung-burung ini berwarna pucat, dan diperkirakan telah berevolusi dari satu spesies ketilang yang datang ke pulau ini lebih dri sejuta tahun lalu.[9]

Referensi

  1. Grant & Grant 2008, hlm. 3
  2. Marsh, Geoff (11 Februari 2015). "Darwin's iconic finches join genome club". Nature. 518 (7538): 147. Bibcode:2015Natur.518..147M. doi:10.1038/518147a. PMID 25673391.
  3. Koffmar, Linda (12 Februari 2015). "Evolution of Darwin's finches and their beaks". Uppsala University, Sweden. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-04-24. Diakses tanggal 2018-04-24.
  4. Soons, Joris; Herrel, Anthony; Genbrugge, Annelies; Aerts, Peter; Podos, Jeffrey; Adriaens, Dominique; Witte, Yoni de; Jacobs, Patric; Dirckx, Joris (12 April 2010). "Mechanical stress, fracture risk and beak evolution in Darwin's ground finches (Geospiza)". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 365 (1543): 1093–1098. doi:10.1098/rstb.2009.0280. PMC 2830229. PMID 20194171.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. Podos, Jeffrey; Nowiki, Stephen (2004). "Beaks, Adaptation, and Vocal Evolution in Darwin's Finches". BioScience. 54 (6): 501–510. doi:10.1641/0006-3568(2004)054[0501:baavei]2.0.co;2.
  6. Sato A, Tichy H, O'hUigin C, Grant PR, Grant BR, Klein J (Maret 2001). "On the Origin of Darwin's Finches". Mol. Biol. Evol. 18 (3): 299–311. doi:10.1093/oxfordjournals.molbev.a003806. PMID 11230531.
  7. Lack, David (1947). Darwin's Finches. Cambridge University Press. Reissued in 1961 by Harper, New York. Reissued in 1983 by Cambridge University Press, ISBN0-521-25243-1.
  8. Steinheimer 2004, hlm. 300
  9. For Darwin's finches, beak shape goes beyond evolution Leah Burrows, Harvard University: News and Events. November 12, 2021
Geospiza
Platyspiza
Camarhynchus
Certhidea
Pinaroloxias
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan