Kamis, 22 Oktober 2026
16:01 WIB
TERKINI
Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Jejak Multidisiplin Anshori Djausal Terekam dalam Pameran Kayu Ara di Lampung Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal

Kritik terhadap multikulturalisme

mempertanyakan perlu tidaknya keragaman budaya suku bangsa di dalam suatu negara.

Bagikan:

Kritik terhadap multikulturalisme mempertanyakan perlu tidaknya keragaman budaya suku bangsa di dalam suatu negara. Multikulturalisme adalah topik perdebatan utama di beberapa negara Eropa yang dulu identik dengan etos budaya nasional yang tunggal.[1][2][3] Para kritikus multikulturalisme menolak integrasi budaya berbagai kelompok etnis dan budaya dengan hukum dan nilai negara yang dihuninya. Para kritikus juga mendukung asimilasi berbagai kelompok etnis dan budaya dengan identitas bangsa yang tunggal.

Kritik lain terkait multikulturalisme mencakup pemahaman yang lebih mendalam mengenai sejarah kolonial negara 'inang'. Buku karya Sneja Gunew berjudul "Haunted Nations: The colonial dimensions of multiculturalism" menyebutkan bahwa multikulturalisme adalah strategi pemerintah untuk melayani imigran minoritas di negaranya.[4] Menurut penelitian Gunew, multikulturalisme dapat menjadi tabir bagi masyarakat yang lebih memilih dipandang sebagai "lebih homogen meski jelas-jelas heterogen".[4] Karena itu, dimensi kolonial sejarah suatu negara sangat berdampak pada pembentukan identitas 'kaum minoritas'[5] sekaligus mengagung-agungkan 'perbedaan budaya'.[6] Étienne Balibar mengklaim bahwa multikulturalisme justru mengekang jenis rasisme yang kurang tampak yang disebut "rasisme diferensialis"; rasisme jenis ini bergantung pada "kenampakan 'perbedaan'".[7] Gunew mengingatkan bahwa dampak rasis karena mengakui 'perbedaan' yang nyata adalah si pemandang dapat berasumsi bahwa ada "ketidakcocokan gaya hidup".[8] Pendapat ini tampaknya tidak rasis, tetapi Balibar mengatakan bahwa multikulturalisme adalah "rasisme yang pada awalnya tidak menampakkan superioritas kelompok tertentu atas kelompok lain, melainkan 'hanya' ... ketidakcocokan gaya hidup dan tradisi".[9]

Lihat pula

Asimilasi:

Referensi

  1. ↑ Munira Mirza. "Salinan arsip". Spiked-online.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2004-05-10. Diakses tanggal 2012-02-01.
  2. ↑ Kenan Malik. "The trouble with multiculturalism". Spiked-online.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2002-01-02. Diakses tanggal 2012-02-01.
  3. ↑ "Report attacks multiculturalism". BBC News. 2005-09-30. Diakses tanggal 2012-02-01.
  4. 1 2 Gunew, Sneja (2004). Haunted Nations: The colonial dimensions of multiculturalisms. 11 New Fetter Lane, London EC4P 4EE: Routledge. hlm. 16. ISBN 0-415-28483-X.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)
  5. ↑ Gunew, Sneja (2004). Haunted Nations: The Colonial Dimensions of Multiculturalisms. 11 New Fetter Lane, London EC4P 4EE: Routledge. hlm. 75. ISBN 0-415-28483-X.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)
  6. ↑ Gunew, Sneja (2004). Haunted Nations: The Colonial Dimensions of Multiculturalisms. 11 New Fetter Lane, London EC4P 4EE: Routledge. hlm. 93. ISBN 0-415-28483-X.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)
  7. ↑ Gunew, Sneja (2004). Haunted Nations: The Colonial Dimensions of Multiculturalisms. 11 New Fetter Lane, London EC4P 4EE: Routledge. hlm. 79–80. ISBN 0-415-28483-X.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)
  8. ↑ Gunew, Sneja (2004). Haunted Nations: The Colonial Dimensions of Multiculturalisms. 11 New Fetter Lane, London EC4P 4EE: Routledge. hlm. 80. ISBN 0-415-28483-X.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)
  9. ↑ Gunew, Sneja (2004). Haunted Nations: The Colonial Dimensions of Multiculturalisms. 11 New Fetter Lane, London EC4P 4EE: Routledge. hlm. 80. ISBN 0-415-28483-X. Balibar{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)

Bacaan lanjutan

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan