Rabu, 28 Oktober 2026
07:04 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Kfar Etzion

Kfar Etzion

Bagikan:
Kfar Etzion
כְּפַר עֶצְיוֹן
250px-Kfar_Etzion_Small.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
RegionTepi Barat
AffiliasiGerakan Kibbutz Religius
Didirikan1927 (asli)
1934 (pendirian kembali pertama)
1943 (pendirian kembali kedua)
1967 (pendirian kembali ketiga)
Pendiriimigran Yaman
Situs webwww.kfar-etzion.co.il

Kfar Etzion (Ibrani: כְּפַר עֶצְיוֹן, lit. Desa Etzion) adalah sebuah pemukiman Israel dan kibbutz religius yang terletak di Bukit Yudea antara Yerusalem dan Hebron di selatan Tepi Barat. Jumlah penduduknya 400 jiwa dan berada dalam yurisdiksi Dewan Regional Gush Etzion.

Sejarah

Bulan Januari 1927, sekelompok Yahudi Ortodoks dari Yerusalem, diikuti oleh beberapa Yahudi Yaman yang berimigrasi ke Palestina untuk alasan agama, mendirikan sebuah komunitas pertanian kecil, "Migdal Eder," di daratan di selatan Yerusalem. Nama ini diambil dari sebuah ayat dalam Alkitab, Kejadian 35:21. Pada Pemberontakan Palestina 1929, Migdal Eder diserang dan dihancurkan. Penduduk desa Beit Umar milik Arab melindungi para petaninya, tetapi mereka tak dapat kembali ke tanahnya.[1]

Di awal 1930-an, tanah ini dibeli oleh Shmuel Yosef Holtzman, yang menamainya "Kfar Etzion," permainan namanya: dalam bahasa Jerman, "holtz" berarti "kayu", yang diterjemahkan menjadi "etz" dalam bahasa Ibrani). Orang Yahudi dipaksa pergi lagi pada awal pemberontakan Arab 1936. Sebagian bangunan yang didirikan Holtzman dan tentaranya dihancurkan oleh orang Arab.[1]

250px-Kfar_Etzion_1947.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kfar Etzion, 1947

Tahun 1943-1947, gerakan kibbutz mengirim sekelompok penduduk untuk mendirikan empat kibbutzim, membentuk apa yang disebut blok Etzion. Kfar Etzion, Ein Tzurim, Massu'ot Yitzhak dan Revadim dihancurkan dalam Perang 1948, dan seluruh daerah ini berada dalam wilayah Yordania.[1]

Kibbutzim ini diserang selama sepuluh hari hingga Kfar Etzion ditaklukkan. Selama pembantaian Kfar Etzion tanggal 14 Mei, semua kecuali empat penduduknya dieksekusi oleh Legiun Arab dan tentara ireguler. Tiga kibbutzim lainnya menyerah. Penduduknya ditangkap sebagai tahanan perang dan dibebaskan sembilan bulan kemudian.[2]

Tahun 1967 Israel menduduki Tepi Barat dalam Perang Enam Hari. Kabinet Israel memutuskan untuk mendirikan kembali pemukiman Kfar Etzion meskipun menerima saran hukum bahwa pendirian pemukiman di teritori jajahan dianggap ilegal menurut Konvensi Jenewa Keempat.[3] Hari ini, Kfar Etzion memiliki sebuah museum dan arsip yang mendokumentasikan sejarah Gush Etzion.

250px-Kfar-Etzion_Synagogue.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kfar Etzion, 2009

Catatan kaki

  1. 1 2 3 Settlements in Focus: Gush Etzion
  2. ↑ Moshe Dayan, 'The Story of My Life'. ISBN 0-688-03076-9. Page 130. Describes negotiations with Abdulla el-Tel about the release of 670 Israelis in the "Jordan POW camp at Mafrak." He states that 320 of them were from the Etzion bloc, including 85 women.
  3. ↑ http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/secret-memo-shows-israel-knew-six-day-war-was-illegal-450410.html

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan