Rabu, 04 November 2026
20:04 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan

Kerajaan Bentan

Bagikan:
Kerajaan Bentan
1102–1299
Ibu kotaBukit Batu, Bintan
Bahasa umumMelayu
PemerintahanMonarki
Raja 
• 1102-1175
Raja Azhar Aya
• 1175-1247
Raja Iskandar Syah
• 1247-1283
Ratu Sakadar Syah
• 1283-1299
Sang Nila Utama
Sejarah 
• Didirikan
1102
• Bergabung dengan Kerajaan Singapura
1299
Mata uangKoin emas dan perak
Didahului olehDigantikan oleh
krjKerajaan
Sriwijaya
krjKerajaan
Singapura
Sekarang bagian dari

Kerajaan Bentan adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah yang sekarang menjadi Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Diperkirakan berdiri sekitar abad ke-11 masehi oleh Raja Azhar Aya.

Sejarah dan Hikayat

Sejarah Kerajaan Bentan memiliki kaitan yang erat dengan sejarah Kerajaan Sriwijaya. Pasca serangan Rajendra Chola I atas Kerajaan Sriwijaya, Raja Azhar Aya memanfaatkan kesempatan itu untuk mendirikan kerajaan sendiri yang berpusat di wilayah Bukit Batu, Bintan.

Sebelumnya Bentan atau Bintan merupakan salah satu mandala Sriwijaya atau daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang pusat pengendalian kekuasaannya berpusat di Muara Takus di daerah Sungai Kampar, Riau daratan sekarang.

Setelah Raja Azhar Aya mangkat, putranya Iskandar Syah naik tahta. Pada masa pemerintahan Iskandar Syah, Kerajaan Bentan menguasai sepenuhnya kawasan yang sekarang dikenal sebagai Kepulauan Riau serta pulau-pulau sekitarnya.

Sejarah dan hikayat melayu menjelaskan, Kerajaan Bentan menjalin hubungan baik dengan lain pasca runtuhnya Sriwijaya. Penguasa Kerajaan Bentan pernah mengadakan kunjungan diplomatik ke Siam. Menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai kerajaan kuat adalah pilihan terbaik daripada dikuasai melalui penaklukan, dan itu berhasil, sehingga Siam batal mengirim armada perangnya ke selatan (kawasan Kerajaan Bentan dan sekitarnya).

Petualang Venesia bernama Marco Polo (1254-1324) pernah singgah di sana dalam pelayarannya dari Tiongkok pada 1292, menyebutnya Pentan.

Dalam catatannya, Marcopolo menulis,

"Saat kau meninggalkan Lusak (Langkasuka) dan berlayar 500 mil ke arah selatan, kau akan sampai ke sebuah pulau yang bernama Pentan (Bentan), sebuah tempat yang sangat liar. Semua kayu yang tumbuh di sana terdiri dari kayu-kayu harum."  

Kedatangan Sang Sapurba

Dijelaskan Sejarah Melayu, ketika Raja Iskandar Syah mangkat, beliau hanya memiliki putri semata mayang yang dikenal dengan nama Wan Seri Beni yang masih remaja.

Maka naiklah istrinya menjadi pemegang tampuk kekuasaan Bentan, dengan gelar Permaisuri Iskandar Syah atau Ratu Sakadar Syah. Dalam menjalankan roda pemerintahan Permaisuri Iskandar Syah dibantu oleh dua Perdana Menteri, yaitu Indra Bupala dan Arya Bupala.  

Pada masa ini Raja Tribuana alias Sang Sapurba dari Bukit Siguntang mengunjungi Bentan. Mendengar berita kedatangan Sang Sapurba zuriyat raja-raja Sriwijaya itu, Permaisuri Iskandar Syah menyambut dengan penuh sukacita.

Adapun maksud dan tujuan Sang Sapurba singgah di Bentan, selain untuk bertualang melihat negeri lain, juga mengingatkan kembali kejayaan Sriwijaya masa lalu dengan menyebarkan semangat mandala atau semangat persatuan dan kesatuan yang pernah mengikat erat kerajaan-kerajaan di bawah taklukan Kerajaan Sriwijaya.

Sang Sapurba merasa putri Ratu, Wan Seri Beni sangat cocok jika dinikahkan dengan putranya, Sang Nila Utama.

Sebaliknya, Permaisuri Iskandar Syah juga amat bersedia menikahkan putrinya Wan Sri Beni dengan putra Sang Sapurba itu, bahkan menyerahkan makhkota kerajaannya kepada Sang Nila Utama. Sejak itu naiklah Sang Nila Utama menjadi Raja Bentan.

Setelah menikahkan Sang Nila Utama dengan Wan Sri Beni, Sang Sapurba meneruskan misinya menyatukan kembali bekas wilayah Mandala Sriwijaya ke Kuantan.

Menemukan Singapura

Ketika memerintah Bentan, Sang Nila Utama melihat sebuah pulau dari atas sebuah batu besar dan tinggi kemudian naik diatasnya dan memandang ke seberang. Ia melihat pasir putih yang terhampar.

Sang Nila Utama mendirikan kerajaan di atas pulau yang bernama Temasik itu yang kemudian diberi nama Kerajaan Singapura.

Beberapa versi Sulalatus Salatin atau Sejarah Melayu serta beberapa referensi lainnya juga sepakat mencatat bahwa kemudian Sri Tri Buana pindah ke Temasik dan membangun kemaharajaan disana sehinggalah bertahan ke beberapa generasi hingga kurun Tahun 1391.

Referensi

Sumber

  • Ahmad Dahlan, Sejarah Melayu, Jakarta Kepustakaan Populer Gramedia 2014
  • Rida K Liamsi, Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu (1160-1946), 2016
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan