Senin, 21 September 2026
10:19 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Katekumen

60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Katekumen"  berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR

Dalam eklesiologi, katekumen (bahasa Latin:catechumenus; bahasa Yunani:κατηχουμενος, katekoumenos; artinya "yang diberi bimbingan") adalah orang yang menerima bimbingan dan penyuluhan mengenai asas-asas ajaran agama Kristen dari seorang katekis sebagai langkah persiapan sebelum dibaptis.

Praktik Kristiani sepanjang sejarah

Walaupun para katekumen sudah ada sejak masa Paulus menulis surat kepada Gereja di Galatia (Strong's G2727), yang di dalamnya ada disebutkan mengenai mereka, praktiknya berkembang dengan lamban, dari perkembangan doktrin dan perlunya untuk menguji orang-orang yang baru bertobat terhadap bahaya kejatuhan kembali. Alkitab mencatat bahwa (Kis. 19) Rasul Paulus mengunjungi beberapa orang yang digambarkan sebagai "murid-murid", meskipun belum dibaptis. Selanjutnya, pada abad ke-2 kelihatannya pembaptisan diselenggarakan hanya pada waktu-waktu tertentu dalam setahun, yang mengindikasikan bahwa periode penerimaan pengajaran lebih merupakan aturan ketimbang pengecualian. Ensiklopedia Katolik mencatat: "Oleh karena penerimaan iman Kristiani mencakup kepercayaan pada keseluruhan doktrin dan pelaksanaan hukum Ilahi (Amanat Agung - Matius 28:20, "dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu"), maka jelaslah bahwa semacam pengajaran pendahuluan harus diberikan bagi orang-orang yang baru bertobat." Yustinus Martir, dalam bukunya Apologia pertama, memaparkan pengajaran-pengajaran yang diadakan sebelum pembaptisan:

Karena banyak orang yang terpikat dan percaya bahwa apa yang kita ajarkan dan ucapkan adalah benar, kemudian menerimanya agar mampu hidup sesuai dengannya, diajar untuk berdoa dan memohon kebaikan Allah dengan berpuasa, bagi pengampunan dosa-dosa mereka yang sudah lampau, maka kita berdoa dan berpuasa bersama mereka. Kemudian mereka kita tuntun ke tempat yang ada air, dan dilahirkan kembali dengan cara yang sama ketika kita sendiri dilahirkan kembali.

"Pemikatan" mungkin terjadi karena khotbah seorang Penginjil; namun karena percaya harus diikuti baptisan, maka yang bersangkutan harus dipersiapkan secara rohani untuk menerima turunnya Roh Kudus melalui pembaptisan. Orang itu akan menerima tanda Salib dan mungkin percikan dengan air suci dari pelayan jemaat, yang menandakan masuknya mereka ke dalam jenjang katekumen.

Para katekumen dibatasi kehadiran mereka dalam ibadah-ibadah formal. Sebagai orang-orang yang belum dibaptis, mereka tidak dapat mengambil bagian secara aktif dalam setiap ibadah, karena itu adalah bagian bagi mereka yang sudah dibaptis. Satu praktik mengizinkan mereka untuk tinggal selama bagian pertama dalam Misa, tetapi dipersilahkan keluar sebelum Ekaristi bahkan sejak abad-abad paling awal. Praktik yang lain mengharuskan mereka masuk melalui pintu samping, atau mengikuti ibadah dari pinggiran, atau dari suatu gallery, atau di sekitar bejana pembaptisan; tidak diketahui apakah ada praktik yang melarang mereka menghadiri semua ibadah sampai mereka dibaptis.

Keinginan mereka untuk dibaptis dianggap sebagai jaminan yang cukup bagi keselamatan mereka, jika mereka meninggal dunia sebelum menerima baptisan. Seandainya mereka mati syahid sebelum dibaptis dengan air, maka kesyahidan mereka dianggap sebagai pembaptisan dengan darah, dan mereka dihormati sebagai martir (syuhada).

Pada abad ke-4, timbul suatu praktik yang tersebar luas untuk mendaftarkan diri sebagai seorang katekumen dan menunda baptisan hingga bertahun-tahun, sering kali hingga menjelang ajal, dan saat sakit parah sehingga praktik normal yakni selam tidak mungkin dilakukan, maka diperlukan baptis-percik atau baptis-siram yakni cara pembaptisan orang sakit. Kaisar Konstantinus I merupakan salah satu dari para katekumen semacam ini.

Cyril dari Yerusalem menulis serangkaian khotbah yang disampaikan kepada para katekumen, yang menjelaskan poin-poin penting dari iman dengan ayat-ayat Alkitab, terbagi dalam kategori "bagi yang hanya tertarik", dan "bagi yang berniat dibaptis", lalu dilanjutkan dengan khotbah-khotbah tertentu yang disampaikan bagi orang-orang yang sudah dibaptis.

Santo Agustinus dari Hippo adalah salah seorang yang didaftarkan sebagai seorang katekumen ketika masih bayi, dan tidak menerima baptisan hingga berumur tiga puluhan. Ia serta para Bapa Gereja lainnya menentang keras praktik semacam itu.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan