Rabu, 30 September 2026
17:54 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh

Kalender Bugis

salah satu metode penentuan tanggal

Bagikan:

Kalender Bugis adalah kalender yang digunakan oleh Suku Bugis di daerah Sulawesi Selatan. Selain digunakan oleh Suku Bugis, beberapa bagian kalender ini juga digunakan oleh Suku Makassar. Kalender Bugis termasuk dalam kalender matahari di mana dalam satu tahun terdiri dari 365 hari. Raja Bone XXIII, La Tenri Tappu To Appaliweng (Sultan Ahmad Al Saleh Syamsuddin) dalam buku hariannya yang tersimpan di Museum Inggris (Naskah Add MS 12354) menggunakan Kalender Bugis yang terlah diselaraskan dengan Kalender Masehi & Hijriah mulai pada tahun 1775 sampai 1795. Purwarupa Kalender ini beserta bukunya telah diserahkan kepada Gubernur Sulawesi Selatan Prof. Nurdin Abdullah pada Hari Jadi Sulsel ke-351 di Makassar, 20 November 2020.

Hari

Selain menggunakan sistem tujuh hari dalam satu pekan, Suku Bugis dan Suku Makassar juga mengenal adanya sistem duapuluh hari dalam satu pekan. Sistem ini terutama digunakan untuk menentukan hari baik atau hari buruk dalam penyelenggaraan suatu upacara adat. Dua puluh hari tersebut yaitu: Pong, Pang, Lumawa, Wajing, Wunga Wunga, Telettuq, Anga, Webbo, Wagé, Ceppa, Tulé, Aiéng, Beruku, Panirong, Maua, Dettia, Soma, Lakkaraq, Jepati, dan Tumpakale. Sebagian dari nama-nama hari tersebut merupakan hasil adopsi dari sistem pasaran, paringkelan, dan padinan dalam Kalender Jawa Kuno. Adopsi dari pasaran / pancawara: Pong (Pon), Pang (Pahing), ?, ? dan Wagé (Wage). Adopsi dari sistem paringkelan / sadwara: Ceppa (?), Tulé (Tungle), Aiéng (Aryang), Beruku (Wurukung), Panirong (Paningron) dan Maua (Mawulu). Adopsi dari sistem padinan / saptawara: Dettia (Aditya), Soma (Soma), Anga (Anggara), Webbo (Rebo), Jepati (Raspati), Lakkaraq (Akka) dan Tumpakale (Tumpak).

Bulan

Tidak seperti Suku Makassar yang menggunakan nama-nama bulan dalam Kalender Islam, sebagian nama-nama bulan dalam Kalender Bugis diadopsi dari nama-nama bulan dalam Kalender Hindu (Raffles, 1830).

Nama-nama bulan berikut jumlah hari dalam satu bulan yaitu:

No Bulan Bugis Lama Hari
1 Sarowan 30
2 Padrowanae 30
3 Sajewi 30
4 Pachekae 31
5 Posae 31
6 Mangaseran 32
7 Mangasutewe 30
8 Mangalompae 31
9 Nayae 30/(31)
10 Palagunae 30
11 Besakai 30
12 Jetai 30
Total 365/(366)

Dari Nama-nama bulan hasil adopsi dari Kalender Hindu adalah: Sarowan (Srawana), Padrowanae (Bhadrawada), Sajewi (Asuji), Posae (Pausa), Mangaseran (Margasira), Palagunae (Phalguna), Besakai (Waisakha), dan Jetai (Jyaistha). Adapun padanan nama-nama bulan Bugis dengan bulan-bulan Masehi berdasarkan buku Bilang Taung (Nor Sidin, 2020) yang diwebinarkan beberapa waktu lalu adalah

No Tahun Bugis Terjemahan Indonesia
1NagaiJanuari
2PalagunaiFebruari
3BisakaiMaret
4JettaiApril
5SarawanaiMei
6PadawaranaiJuni
7SujiariJuli
8PacingkaiAgustus
9PosiyaiSeptember
10MangasiraiOktober
11MangasettiwiNovember
12MangalompaiDesember

Tahun

Tahun baru dimulai pada tanggal 1 Sarawanae yang jatuh pada sekitar tanggal 16 Mei dalam Kalender Gregorian (Crawfurd, 1820; Raffles, 1817, Matthes, 1868) Kalender Bugis tidak mengenal waktu tersendiri yang menjadi acuan pencatatan tahun. Kemungkinan pada masa lalu pencatatan tahun menggunakan waktu pada saat naik takhtanya seorang raja sebagaimana Kalender Tiongkok menggunakan tarikh naik takhtanya seorang kaisar (Crawfurd, 1820). Dari naskah Schoeman Vi.18 di Perpustakaan Berlin disebut sistem penanggalan ini sudah digunakan sebelum Portugis masuk ke Sulawesi Selatan pada tahun 1532 yang lalu mengenalkan kalender bilang Pariyangki (Parengki). Menurut Matthes (1868) kalender Bugus ini mirip dengan Kalender Saka yang telah dimulai sejak 15 Maret 78 Masehi. Jadi secara umum bisa diduga Kalander Bugis lahir setelahnya akibat pengaruh Hindu di Sulawesi Selatan, dan terdapat naskah lontara yang menghitung periodisasi raja dengan jumlah tahun yang tepat dan pada akhirnya menjadi kebiasaan raja untuk menulis buku harian seperti budaya eropa sampai pada abad ke-17, di mana raja Bone XXIV La Mappasessu To Appatunru (1812-1823) masih menulis buku harian seperti ayahandanya.

Referensi

  • Crawfurd, John; 1820, History of the Indian Archipelago, Volume 1; Archibald Constable and Co., Edinburgh.
  • Matthes, Benjamin Frederik; 1868, De Makassaarsche en Boeginesche Kotika's, Sutherland, Makassar.
  • Raffles, Thomas Stamford; 1830, The History of Java, Volume 2, John Murray, London.
  • Tol, Roger; 2008, Rolled up Bugis Stories: A Parakeet’s Song of an Old Marriage Calendar, KITLV, Jakarta.
  • Nor Sidin. 2020. Bilang Taung: Sistem Penanggalan Masyarakat Sulawesi Selatan Berdasarkan Naskah Lontara, Yayasan Turikalengna, Makassar. Penyunting: Dr. Muhlis Hadrawi, Sapri Pamulu, Ph.D., Dr. Nuraidar Agus.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan