Hua'er (花儿, huā'ér, secara harfiah "bunga") adalah tradisi lagu rakyat lisan di barat laut Tiongkok, terutama di Provinsi Gansu dan Qinghai, yang dinyanyikan oleh sembilan kelompok etnis. Lagu-lagunya diambil dari repertoar tradisional yang luas, dan liriknya digubah secara spontan menurut aturan tertentu. Menurut UNESCO, Hua'er berfungsi sebagai sarana mengungkapkan perasaan pribadi dalam konteks sosial dan sebagai pertukaran budaya lintas etnis, sekaligus hiburan pedesaan yang populer.[1] Hua'er dicatat dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Manusia pada 2009.[2]
Nama
Kata hua'er berarti "bunga" dalam bahasa Mandarin. Menurut peneliti Meng Ren, nama itu berasal dari kebiasaan membandingkan kecantikan perempuan dengan bunga dalam lirik lagu, dan sebagian besar lagunya bertema cinta.[3] Hua'er juga dikenal dengan sebutan lain, seperti "Pemuda", "Ye Quzi" (lagu liar), "Lagu Rakyat", "Lagu Gunung", dan "Da Shange" (lagu gunung besar).[4] Genre ini termasuk dalam kelompok lagu gunung (shan'ge) Tiongkok.
Wilayah dan kelompok etnis
Hua'er tersebar di Gansu, Qinghai, dan Ningxia, dan menurut sebagian sumber juga di Xinjiang. Genre ini sudah dinyanyikan selama ratusan tahun dan dikenal dengan nada yang tinggi.[5]
UNESCO menyebut sembilan kelompok etnis yang berbagi tradisi ini,[1] yaitu Han, Hui, Tibet, Bonan, Dongxiang, Salar, Tu, Yugur, dan Mongol.[3] Sebagian peneliti menyebut delapan kelompok, sehingga jumlahnya berbeda antarsumber.[4]
Secara regional, Hua'er dibedakan ke dalam beberapa ragam utama. Hehuang Hua'er populer di daerah aliran Sungai Kuning dan Sungai Huangshui di Qinghai dan Gansu. Liupanshan Hua'er terdapat di kawasan Pegunungan Liupan di Ningxia dan sekitarnya. Taomin Hua'er berasal dari lembah Sungai Tao dan Sungai Min di Gansu.[6]
Bentuk dan isi
Menurut UNESCO, repertoar Hua'er diberi nama berdasarkan etnis, kota, atau bunga, misalnya Tu People's ling dan White Peony ling. Liriknya digubah secara spontan menurut aturan tertentu. Bait lagu dapat terdiri atas tiga, empat, lima, atau enam baris, dan setiap baris berisi tujuh suku kata.[1] Isinya mencakup kisah cinta muda-mudi, jerih payah dan kelelahan kehidupan bertani, kelemahan manusia, dan kegembiraan bernyanyi. Para penyanyi juga mengomentari perubahan sosial di sekitar mereka, sehingga lagu-lagu itu menjadi catatan lisan yang hidup tentang perkembangan masyarakat Tiongkok.[1]
Dalam kajian di Linxia, para peneliti menemukan tiga teknik utama menyanyikan Hua'er, yaitu jianyin, cangyin, dan jiancang.[4]
Festival
Hua'er dinyanyikan secara spontan oleh petani saat bekerja di ladang atau bepergian, dan dibawakan lebih formal pada salah satu dari lebih seratus festival Hua'er tradisional yang diadakan setiap tahun di Gansu dan Qinghai.[1] Setelah pekerjaan pertanian berkurang, penduduk desa berbondong-bondong ke padang rumput penuh bunga untuk menghadiri festival Hua'er.[7]
Salah satu festival yang paling dikenal adalah Festival Hua'er Gunung Erlang di Kabupaten Min, Kota Dingxi, Gansu, yang menampilkan lagu-lagu Hua'er ragam Tao-Min. Festival ini dimasukkan ke dalam daftar warisan budaya takbenda nasional gelombang pertama pada 2006.[6]
Sejarah dan tabu sosial
Sebuah makalah dari Universitas Lanzhou menyebut Hua'er pertama kali muncul pada awal Dinasti Ming (sekitar 1368) dan berkembang selama ratusan tahun.[8]
Secara historis, menyanyikan Hua'er di depan umum dianggap memalukan, bahkan tabu, karena liriknya yang bernuansa erotik.[9] Menurut penelitian Yang Man, menyanyikan Hua'er tradisional sering dikaitkan dengan percintaan di luar pernikahan, sehingga dianggap tabu dalam rumah tangga dan desa, terutama di antara anggota keluarga berlainan jenis.[10] Kajian Ren Meng mencatat bahwa tradisi ini pernah dilarang pada tahun 1960-an dan 1970-an, tetapi kemudian menjadi warisan budaya nasional.[3]
Penyanyi dan pewarisan
Menurut UNESCO, penyanyi Hua'er dapat berpendidikan rendah, tetapi penyanyi paling sukses dan dihormati kini menjadi nama yang dikenal luas. Mereka tampil di berbagai tempat dan bahkan mendirikan lembaga sendiri untuk mewariskan seninya kepada murid.[1]
Sejak ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda, Hua'er juga dimasukkan ke dalam sistem pendidikan umum wajib di Tiongkok.[10] Di Sekolah Menengah Atas Huimin Linxia di Gansu, para peneliti menyusun buku panduan pembelajaran Hua'er untuk siswa kelas satu yang memuat sepuluh lagu representatif, dari yang mudah hingga yang sulit.[4] Sebuah tinjauan kajian pada 2025 menyebut dua langkah pelindungan utama untuk Hua'er Gansu: memadukan budaya tradisional dengan tren masa kini, dan mengembangkan serta mewariskannya melalui sistem pendidikan.[11]
Pengakuan resmi
Hua'er dimasukkan ke dalam daftar warisan budaya takbenda nasional Tiongkok pertama pada 20 Mei 2006 dan dicatat UNESCO pada 30 September 2009.[4] Komite Antarpemerintah menilai Hua'er sebagai bentuk seni penting yang diakui komunitas pelakunya sebagai bagian jati diri, sekaligus sarana mengungkapkan pikiran dan perasaan yang diwariskan antargenerasi. Komite juga menilai pencatatan itu dapat meningkatkan keterlihatan warisan ini di dunia serta kebanggaan, kreativitas, dan semangat para penyanyi. Selain itu, otoritas lokal dan nasional serta individu komunitas mengusulkan langkah pelindungan, dan pencalonan didukung negara serta persetujuan komunitas dan praktisi.[2]
UNESCO juga memasukkan Hua'er ke dalam tema warisan budaya takbenda pada Program Jalur Sutra.[12]
Dari "lagu liar" menjadi warisan
Yang Man menyimpulkan bahwa penetapan sebagai warisan budaya takbenda mengubah Hua'er dari genre "terlarang" di pinggiran masyarakat pedesaan menjadi bagian terhormat dari warisan nasional dan dunia. Menurut Yang, proses pelindungan warisan budaya takbenda di tingkat nasional cenderung bersifat dari atas ke bawah untuk memperkuat identitas nasional Tiongkok dan masyarakat yang harmonis. Namun, penyanyi, ahli, dan pejabat tetap memanfaatkan pengakuan itu untuk menegosiasikan dan membayangkan kembali praktik Hua'er serta identitas yang melekat padanya. Hua'er yang dulu dipandang sebagai "lagu liar" dari orang-orang tak patuh kini dibangun ulang sebagai lagu pacaran romantis kelompok etnis minoritas yang "polos" sekaligus musik ikonik yang mewakili solidaritas etnis di kawasan barat laut.[9]
Pariwisata juga turut menghidupkan Hua'er. Penyanyi Hua'er asal Ningxia, Sa Lina, tampil tidak hanya di kampung halamannya tetapi juga di Gansu dan Qinghai, dan Hua'er menjadi daya tarik wisata budaya.[5]
Kajian
Etnomusikolog Belanda Frank Kouwenhoven, direktur European Foundation for Chinese Music Research, bersama istrinya, sinolog Antoinet Schimmelpenninck, meneliti Hua'er sejak 1990-an. Dari 1997 sampai 2009 mereka mendatangi semua festival Hua'er utama di Gansu. Kouwenhoven kembali meneruskan penelitian itu pada 2017 setelah istrinya meninggal dunia pada 2012, dan menyumbangkan koleksi buku serta materi musiknya kepada perpustakaan Universitas Heidelberg dan Universitas Leiden.[7]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 "Hua'er". UNESCO Intangible Cultural Heritage (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Decision of the Intergovernmental Committee: 4.COM 13.16". UNESCO Intangible Cultural Heritage (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 Ren, Meng (2012). Why are the flowers so "red": scholarship and policy changes on hua'er (flower songs) in Northwest China (MA tesis) (dalam bahasa Inggris). University of Pittsburgh. Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite thesis}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 Li, Xiao; Yodwised, Chutasiri; Chalermsanyakorn, Thipsita. "Constructing the Linxia Hua'er folk song guidebook for teaching first-year students at Linxia Huimin High School in Gansu province". Bangkokthonburi University (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Folk melodies vitalize tourism in NW China". IPRCC (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Kajian tentang lagu rakyat "Hua'er" (花儿) sebagai warisan budaya takbenda digital". Mongolian Journal of Arts and Culture (MongoliaJOL) (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Singing the praises of folk culture". China Daily (Gansu) (dalam bahasa Inggris). 7 Juli 2025. Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Liao, Haoqi; Shi, Dayong (2024). "Emotional and Aesthetic Analysis of the Lyrics in the Northwest Folk Song "Flowers"". Proceedings of the 2024 International Conference on Humanities, Arts, Education and Social Development (HAESD 2024) (dalam bahasa Inggris). Atlantis Press. doi:10.2991/978-2-38476-344-3_17.
- 1 2 Yang, Man. "From wild songs to intangible cultural heritage: the heritagization of Hua er in China" (dalam bahasa Inggris). 7 (2): 215–230. doi:10.1007/s40636-020-00182-1. ISSN 2197-4233.
{{cite journal}}:|access-date=memerlukan|url=; Kutipan journal memerlukan|journal=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 Yang, Man (Mei 2016). The Transformation of Hua'er Songs in 21st Century China (Ph.D. tesis) (dalam bahasa Inggris). University of Hawaiʻi at Mānoa. Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite thesis}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Wang, Xiaotian; Inkhong, Nutthan (2025). "The Development and Inheritance of Gansu Folk Song Hua'er". Nimit Mai Review (dalam bahasa Inggris). 8 (1): 152–162.
- ↑ "Hua'er". UNESCO Silk Roads Programme (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Pranala luar
- Hua'er di situs UNESCO