Minggu, 27 September 2026
11:12 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG

Homososialitas

Dalam sosiologi, homososialitas adalah hubungan sesama jenis yang tidak romantis atau seksual, seperti persahabatan. Lawan dari homososial adalah heterososial, yaitu orang yang lebih menyukai hubungan non-seksual dengan lawan jenis. Dalam hubungan yang melibatkan lebih dari dua orang, hubungan ini mungkin homososial, bisosial (melibatkan kedua jenis kelamin), atau heterososial.

Istilah "homososial" dipopulerkan oleh Eve Sedgwick dalam diskusinya mengenai "kehendak homososial pria".[1] Jean Lipman-Blumen sebelumnya (1976) mendefinisikan homososialitas sebagai preferensi kepada anggota jenis kelamin sendiri – preferensi sosial dan bukan seksual.[2]

Konsep homososialitas tidak mengandung nilai heteroseksualitas atau homoseksualitas. Misalnya, laki-laki heteroseksual yang lebih memilih bersosialisasi dengan laki-laki adalah seorang heteroseksual yang homososial.

Bukti empiris

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rose,[3] berdasarkan responden laki-laki dan perempuan yang berusia antara 20 hingga 28, preferensi hubungan sesama jenis ada baik dalam laki-laki maupun perempuan. Hubungan antar jenis kelamin dianggap oleh kedua jenis kelamin kurang membantu dan kurang setia bila dibandingkan dengan persahabatan sesama jenis, dan pembentukan persahabatan antar jenis dan sesama jenis juga berbeda.

Preferensi sesama jenis berkembang antara usia 3 hingga 9 tahun (tergantung budaya, keluarga, dan struktur sosial). (LaFreniere, Strayer,& Gauthier, 1984; Jacklin& Maccoby, 1978; Harkness & Super, 1985)[4][5][6] LaFreniere, Strayer, dan Gauthier (1984)[7] melakukan penelitian selama tiga tahun yang mengamati lima belas kelompok yang berusia antara 1 hingga 6 tahun, 98 laki-laki dan 93 perempuan. Ketika mereka melihat segregasi seks pada masa kecil, para peneliti mendapati bahwa segregasi muncul seiring meningkatnya umur dan sebagian besar anak-anak di Barat menunjukkan preferensi tersebut pada umur 3-4 tahun. Namun, dalam penelitian yang dilakukan oleh Harkenss dan Super,[8] anak-anak Kenya tidak memiliki preferensi seks hingga usia 6 sampai 9 tahun. Peneliti mengamati 152 anak-anak kenya di pedesaan dan menemukan bahwa perubahan tidak terjadi hingga ekspektasi orang tua dan tugas dalam adat meningkat. "Kapan dan bagaimana segregasi gender muncul merupakan dampak individual dan relung yang dibentuk secara kultural” (Harkness & Super, 1985).[9]

Tampaknya bias sosial terhadap sesama jenis dapat berkembang pada anak-anak. Menurut penelitian, pada usia 3 hingga 4 tahun, anak-anak lebih memilih anggota sesama jenis daripada anggota lawan jenis (Bussey & Bandura, 1992).[10] Perempuan muda memilih perempuan lain daripada laki-laki. Hasilnya sama untuk anak laki-laki. Lebih lagi, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Carol Martin (1989),[11] laki-laki berusia 4,5 menyatakan bahwa mereka lebih tidak suka kepada perempuan "tomboy" daripada laki-laki yang kemayu; sementara laki-laki berusia 8,5 tahun lebih tidak suka laki-laki yang kemayu. Perbedaan umur ini menunjukkan bahwa anak-anak yang paling tidak berumur 4 tahun lebih memilih jenis kelamin mereka sendiri tanpa memandang perilaku yang tidak sesuai dengan peran gender. Namun, pada umur 8 tahun, anak laki-laki mulai mematuhi ekspektasi sosial akan peran pria dan menganggap rendah perilaku feminin. Telah dibuktikan pula bahwa anak-anak berusia 10-12 tahun lebih memilih sosialisasi sesama jenis.[12]

Rujukan

  1. ↑ J. Childers/G. Hentzi eds., The Columbia Dictionary of Modern Literary and Cultural Criticism (New York 1995) hal. 138
  2. ↑ Merl Storr, Latex and Lingerie (2003) hal. 39-40
  3. ↑ Rose, S.M. (1985). Same- and cross-sex friendships and the psychology of homosociality. Sex Roles, 12(1/2), 63-75.
  4. ↑ Harkness, S., & Super, C.M. (1985). The cultural context of gender segregation in children’s peer groups. Child Development, 56, 219-224.
  5. ↑ Maccoby, E.E., & Jacklin, C.N. (1987). Gener segregation in childhood. Advances in Child Development and Behavior, 20, 239-287.
  6. ↑ LaFreriere, P., Strayer, F.F., & Gauthier, R. (1984). The emergence of same-sex preferences among preschool peers: A developmental ethological perspective. Child Development, 55, 1958-1965.
  7. ↑ LaFreriere, P., Strayer, F.F., & Gauthier, R. (1984). The emergence of same-sex preferences among preschool peers: A developmental ethological perspective. Child Development, 55, 1958-1965.
  8. ↑ Harkness, S., & Super, C.M. (1985). The cultural context of gender segregation in children’s peer groups. Child Development, 56, 219-224.
  9. ↑ Harkness, S., & Super, C.M. (1985). The cultural context of gender segregation in children’s peer groups. Child Development, 56, 219-224.
  10. ↑ Bussey, K., & Bandura, A. (1992). Self-regulatory mechanisms governing gender development. Child Development, 63, 1236-1250.
  11. ↑ Martin, C. L. (1989) Children’s use of gender-related information in making social judgments. Developmental Psychology, 25, 80-88.
  12. ↑ Lobel, T. E., Bempechat, J., Gewirtz, J. C., Shoken- Topaz, T., & Bashe, E. (1993). The role of gender-related information and self-endorsement traits in preadolescents’ inferences and judgments. Child Development, 64, 1285-1294.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan