Sabtu, 24 Oktober 2026
17:45 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Hasan Rahaya

politikus Indonesia (1922–2014)

Bagikan:
Infobox orangHasan Rahaya
Biografi
Kelahiran22 Desember 1922 Suntingan nilai di Wikidata
Bogor Suntingan nilai di Wikidata
Kematian30 November 2014 Suntingan nilai di Wikidata (91 tahun)
Jakarta Suntingan nilai di Wikidata
Data pribadi
PendidikanUniversitas Hiroshima
Universitas Keio Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
Pekerjaanpolitikus Suntingan nilai di Wikidata
Keluarga
AnakFerdy Hasan Suntingan nilai di Wikidata
Penghargaan

Raden Haji Muhammad Hasan Rahaya[1][2] (22 Desember 1922 – 30 November 2014)[3][4] adalah seorang politikus dan pengusaha Indonesia. Ia tergabung dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan pernah menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada periode 1977-1982.[5][6]

Hasan Rahaya bersama Arifin Bey merupakan dua warga Indonesia yang selamat di Hiroshima, ketika kota tersebut dilanda bom atom.[4] Ia merupakan lulusan Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Hukum, Universitas Keio.[7] Salah satu putranya adalah pembawa acara Ferdy Hasan.[8][9]

Biografi

Ia lahir di Bogor, Hindia Belanda.[2]

Setelah lulus dari Sekolah Guru Agama di Jakarta pada tahun 1942, ia bekerja sebagai guru di Sekolah Rakyat No. 7 Jakarta.[7] Setelah itu, seiring dengan disingkirkannya Belanda oleh tentara Jepang yang berekspansi pasca-pecahnya Perang Pasifik, masa pendudukan Jepang di Indonesia pun dimulai. Pada bulan Desember di tahun yang sama, ia mulai bekerja di Kantor Pemerintahan Militer Jepang (Gunseikanbu).[7] Ia kemudian terpilih sebagai angkatan ke-2 Mahasiswa Asing Khusus Wilayah Selatan dan diberangkatkan ke Jepang pada tahun 1944. Setelah mengikuti pelatihan bahasa Jepang di Kokusai Gakuyukai (kini di bawah Japan Student Services Organization), ia masuk ke Universitas Sastra dan Sains Hiroshima (sekarang Universitas Hiroshima) pada bulan April 1945 dan mengambil jurusan pendidikan.[2][7][10] Selama masa pelatihan di Tokyo, mahasiswa angkatan ke-2 ini sempat mengalami peristiwa Pengeboman Tokyo.[3]

Pada 6 Agustus 1945, ia terkena bom atom saat sedang mengikuti kuliah fisika dari Profesor Osamu Masaki bersama Arifin Bey (yang kelak menjadi Profesor Emeritus di Universitas Studi Internasional Kanda) di ruang piano Sekolah Tinggi Guru Hiroshima, yang berjarak sekitar 1,5 km dari hiposentrum.[10][11] Ledakan terjadi ketika Profesor Masaki hendak menulis sesuatu di papan tulis. Ketiganya tertimbun reruntuhan bangunan; Hasan dan Bey berhasil membebaskan diri, namun nahas bagi Profesor Masaki yang nyawanya tidak tertolong.[10] Setelah itu, sambil tidur beratapkan langit di lapangan universitas, ia mengabdikan dirinya untuk membantu menyelamatkan korban bom atom asal Jepang lainnya.[2][10][11] Saat itu, terdapat 9 orang Mahasiswa Asing Khusus Wilayah Selatan yang terdampak langsung bom atom di Hiroshima, 5 di antaranya berasal dari Indonesia termasuk Hasan, dan Hasan menjadi korban selamat (hibakusha) asal Indonesia yang hidup paling lama.[4][11]

Pasca-perang, kedaulatan negara-negara di Asia Tenggara dikembalikan dari Jepang ke negara penjajah asalnya, dan para mahasiswa selatan diperintahkan pulang ke tanah air masing-masing atas instruksi dari negara penjajah tersebut.[12] Namun pada saat itu, Perang Kemerdekaan Indonesia telah pecah. Bagi mahasiswa Indonesia, pulang ke tanah air sama artinya dengan mengakui status mereka sebagai kawula (rakyat) Belanda. Oleh karena itu, banyak dari mereka menolak dipulangkan dan memilih tetap di Jepang untuk melanjutkan pendidikan dengan mengandalkan beasiswa dari Kokusai Gakuyukai atau bekerja paruh waktu.[12][13] Menurut penuturan Hasan, meskipun ada instruksi dari pihak pemerintah Indonesia sendiri untuk pulang, ia tetap memilih tinggal di Jepang untuk melanjutkan studinya.[3] Ia bekerja di Gudang Amunisi Ikego milik militer Amerika Serikat di Prefektur Kanagawa untuk mengumpulkan uang. Bersamaan dengan itu, ia melakukan kerja praktik di Institut Penelitian Pendidikan Kementerian Pendidikan pada tahun 1947, menjadi mahasiswa pendengar di Universitas Sastra dan Sains Tokyo pada tahun yang sama, lalu masuk ke program sarjana di Fakultas Hukum Jurusan Ilmu Politik Universitas Keio pada tahun 1948 dan lulus pada tahun 1951.[2][3]

Setelah lulus dari universitas, ia bekerja di sebuah perusahaan perdagangan di Osaka, lalu pulang ke Indonesia pada tahun 1952 dan terlibat dalam manajemen perusahaan pelayaran di Jakarta.[3][14] Pada tahun 1956, ia turut andil dalam mendirikan Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang (kini Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang).[2] Pada tahun 1966, ia dikabarkan sempat mengajar bahasa dan budaya Jepang pada masa-masa awal berdirinya Akademi Kebudayaan Jepang (kini Universitas Darma Persada) yang didirikan oleh perhimpunan tersebut.[2][3]

Pada tahun 1970, ia bertugas sebagai penasihat pribadi Djamaluddin Malik, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Sejak tahun 1976, ia menjabat sebagai penasihat pribadi Idham Chalid dari partai Nahdlatul Ulama yang saat itu menjabat sebagai Ketua MPR sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA).[2] Pada tahun 1977, ia mencalonkan diri dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), terpilih sebagai anggota MPR, dan menjabat selama 5 tahun. Dari tahun 1982 hingga 1987, ia menjabat sebagai anggota DPA.[2] Di bawah pemerintahan Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto, ia menangani bidang politik dan ekonomi.[5] Menurut putranya, Ferdi Hasan, ia sempat menetap di Amerika Serikat sekitar tahun 1980.[9]

Saat peresmian Universitas Darma Persada pada tahun 1986, namanya tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri kampus tersebut.[2]

Pada musim semi tahun 2005, ia menerima penghargaan bintang jasa asing dari pemerintah Jepang, yaitu Order of the Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon (Kyokujitsu Chujusho).[2][3] Pada bulan Februari 2013, Universitas Hiroshima menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepada Hasan, yang saat itu merupakan salah satu Mahasiswa Asing Khusus Wilayah Selatan yang masih hidup.[2]

Pada tanggal 30 November 2014, ia meninggal dunia di Jakarta pada usia 91 tahun.[4]

Catatan kaki

  1. ↑ "名誉博士" (dalam bahasa Jepang). Universitas Hiroshima. Diakses tanggal 2018-08-21.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 "ハッサン・ラハヤ氏への授与式" (PDF) (dalam bahasa Jepang). Universitas Hiroshima. Diakses tanggal 2018-08-03.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 "「福島は必ず乗り越える」 ハッサンさんがエール 戦時に留学、広島で被爆" (dalam bahasa Jepang). Jakarta Shimbun. 2011-11-22. Diakses tanggal 2018-08-03.
  4. 1 2 3 4 "広島で被爆した元南方留学生が死去" (dalam bahasa Jepang). Chugoku Shimbun. 2014-12-05. Diakses tanggal 2018-08-03.
  5. 1 2 "政権の座、長過ぎた" (dalam bahasa Jepang). Jakarta Shimbun. 2014-02-03. Diakses tanggal 2018-08-03.
  6. ↑ https://books.google.co.id/books?id=edVk8oFMZ_cC&pg=PA19
  7. 1 2 3 4 Yoshiro Egami (1994). "南方特別留学生招へい事業に関する研究 (14) : 南方特別留学生名簿" (PDF). 鹿兒島経大論集 (35) 1 (dalam bahasa Jepang). Kagoshima International University: 82. Diakses tanggal 2018-08-03.
  8. ↑ "Cerita ke Jepang: keluarga Safina dan Ferdy Hasan". liburkeluarga.com. 2016-12-04. Diakses tanggal 2018-08-03.
  9. 1 2 "FERDY HASAN". pasarpolis.com. Diakses tanggal 2018-08-03.
  10. 1 2 3 4 Yoshiro Egami (1993). "南方特別留学生招へい事業に関する研究 (9) : 南方特別留学生と原子爆弾被爆" (PDF). 鹿兒島経大論集 (34) 1 (dalam bahasa Jepang). Kagoshima International University: 215-241. Diakses tanggal 2018-08-03.
  11. 1 2 3 "南方特別留学生 来日75年 交流の被爆者2人「語り継いでほしい」" (dalam bahasa Jepang). Chugoku Shimbun. 2018-04-16. Diakses tanggal 2018-08-03.
  12. 1 2 Jiro Sato (2015). "2.(4)南方特別留学生と国際学友会" (PDF) (dalam bahasa Jepang). Universitas Hiroshima. hlm. 83-92. Diakses tanggal 2018-08-03.
  13. ↑ Yasuyo Tani (2001). "南方特別留学生の諸相" (PDF). 太平洋学会 24(1・1) (dalam bahasa Jepang). Pacific Society: 39. Diakses tanggal 2018-08-03.
  14. ↑ "H. ラハヤ" (dalam bahasa Jepang). Kotobank. Diakses tanggal 2018-08-03.

Lihat pula

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan