Jumat, 30 Oktober 2026
09:22 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Gustav Hartlaub

Gustav Hartlaub

Bagikan:
Gustav Hartlaub
250px-Johann_Gustav_Hartlaub_-_pre_1900.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir
Karel Johan Gustav Hartlaub

(1814-11-08)8 November 1814
Bremen, Jerman
Meninggal29 November 1900(1900-11-29) (umur 86)
KewarganegaraanJerman
PendidikanUniversitas Göttingen
Dikenal karenaKarya mengenai burung eksotis
Karier ilmiah
BidangDokter dan ornitolog
Hartlaub

Karel Johan Gustav Hartlaub (8 November 1814 – 29 November 1900) adalah seorang dokter dan ornitolog asal Jerman.

Hartlaub lahir di Bremen, dan menempuh studi di Bonn dan Berlin sebelum lulus dalam bidang kedokteran di Göttingen. Pada tahun 1840, ia mulai mempelajari dan mengoleksi burung-burung eksotis, yang kemudian ia sumbangkan ke Museum Sejarah Alam Bremen. Ia mendeskripsikan beberapa spesies tersebut untuk pertama kalinya. Pada tahun 1852, ia mendirikan jurnal baru bersama Jean Cabanis, yaitu Journal für Ornithologie. Bersama Otto Finsch, ia menulis Beitrag zur Fauna Centralpolynesiens: Ornithologie der Viti-, Samoa und Tonga- Inseln. Karya tahun 1867 yang diterbitkan di Halle oleh H. Schmidt ini menyertakan litograf berwarna tangan dan didasarkan pada spesimen burung yang dikumpulkan oleh Eduard Heinrich Graeffe untuk Museum Godeffroy.

Sejumlah burung dinamai untuk menghormatinya, termasuk Mandar-batu Hartlaub, Turako Hartlaub, Bebek Hartlaub, dan Camar Hartlaub.

Referensi

  • Beolens, Bo; and Michael Watkins (2003). Whose bird? : common bird names and the people they commemorate. London: Christopher Helm. ISBN0-300-10359-X.

Pranala luar

Flag of JermanBiography icon

Artikel bertopik biografi Jerman ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan