Rabu, 04 November 2026
07:24 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Gurindam Dua Belas

Gurindam Dua Belas

gurindam Melayu

Bagikan:
250px-Gurindam_12_of_Raja_Ali_Haji_written_in_1847.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gurindam 12, karya dari Raja Ali Haji

Gurindam Dua Belas (Jawi: ڬوريندام دوا بلس) merupakan salah satu karya agung sastra Indonesia. Karya ini termasuk ke dalam jenis gurindam, yaitu salah satu jenis puisi Melayu klasik. Gurindam Dua Belas merupakan hasil karya dari Raja Ali Haji seorang sastrawan, pahlawan nasional dan bangsawan dari Kesultanan Lingga yang kini menjadi wilayah dari Provinsi Kepulauan Riau.[1]

Gurindam Dua Belas ditulis dan diselesaikan di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau pada tanggal 23 Rajab 1264 H atau bertepatan dengan 1847 M di saat Raja Ali Haji berusia 38 tahun.[2]

Istilah gurindam berasal dari bahasa Tamil, yang memiliki arti serupa dengan peribahasa, kiasan atau ungkapan berbunga dalam konteks keindahan bahasa. Dalam beberapa kesempatan, ungkapan-ungkapan tersebut disertai dengan nyanyian yang dipadukan dengan kalimat berirama dan bernada. Gurindam dua belas merupakan karya sastra puisi yang terdiri dari dua baris[3]

Sejarah dan perkembangan

Pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Muzaffar Syah di Kerajaan Melayu Riau Lingga, Raja Ali Haji menulis Gurindam Dua Belas pada tahun 1846 sebagai respons terhadap konflik internal kerajaan dan pengaruh kolonial yang melemahkan nilai Islam dalam masyarakat Melayu Riau-Lingga. Karya sastra ini diselesaikan pada 23 Rajab 1263 H (1846 M) dan dimaksudkan sebagai pedoman moral dan ajaran agama, sekaligus bentuk tanggung jawab beliau dalam menjaga eksistensi budaya Islam.[3]

Kerajaan Melayu Riau-Lingga mendukung penuh karya tersebut dengan menjadikannya bahan ajar dan media penyebaran nilai moral. Ulama dan cendekiawan turut berperan dalam memperkenalkan gurindam melalui pendidikan dan kegiatan sosial.[3]

Pada dekade 1960-an, karya sastra gurindam dua belas pernah dimasukkan dalam pembelajaran sastra di Indonesia. Namun, pada periode yang sama perkembangan gurindam mengalami hambatan akibat tekanan politik dari PKI yang menolak karya sastra bernuansa religius. Selain itu, penggunaan bahasa Melayu Kuno yang sulit dipahami maknanya oleh masyarakat awam.[3]

Upaya revitalisasi dilakukan sejak 2009 oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang dengan melibatkan lembaga adat, budayawan, dan instansi pendidikan. Bahasa gurindam dikemas ulang agar lebih mudah dipahami, serta dijadikan muatan lokal di sekolah. Selain itu, dilakukan juga seminar, dan penerbitan karya oleh budayawan lokal, seperti Abdul Malik dan Abdul Kadir Ibrahim. Kegiatan hiburan seperti lomba dan festival juga diadakan, misalnya pada Agustus 2014, Balai Pelestarian Nilai Budaya Tanjungpinang mengadakan Pekan Budaya Melayu yang menampilkan lomba mengulas nilai-nilai gurindam.[3]

Isi

250px-Gurindam_12_-_12.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gurindam Dua Belas, pasal 11 dan 12
250px-Gurindam12.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gurindam Dua Belas, pasal 1 dan 2

Karya sastra ini berbahasa Melayu Klasik dengan ciri khas banyaknya istilah tasawuf, kata-kata kiasan dan metafora. Karya ini terdiri dari dua belas pasal dan dikategorikan sebagai "Syi'r Al-Irsyadi" atau puisi didaktik karena berisikan nasihat atau petunjuk hidup, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.[4]

Selain itu terdapat pula pelajaran dasar Ilmu Tasawuf tentang mengenal "yang empat", yaitu syari'at, tarekat, hakikat, dan makrifat. Diterbitkan pada tahun 1854 dalam Tijdschrft van het Bataviaasch Genootschap No. II, Batavia, dengan huruf Arab dan diterjemahkan dalam Bahasa Belanda oleh Elisa Netscher.[5][6]

Nilai-nilai

Gurindam 12 karya Raja Ali Haji memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi, yaitu merangkum nilai berbagai kehidupan dan sosial budaya masyarakat berupa nilai keagamaan, nilai pergaulan dan sosial, nilai moral, dan nilai pendidikan karakter. Gurindam 12 memiliki ajaran dan tuntunan moral yang berlandaskan agama Islam yang dijadikan wadah oleh Raja Ali Haji melakukan syiar Islam. Gurindam 12 Raja Ali Haji memiliki nilai-nilai seperti (1) nilai religius Islami; (2) tuntunan perilaku dan pengendalian diri; dan (3) pengelolaan pikiran dan perasaan manusia.[7]

Pasal pertama dan kedua menekankan hubungan manusia dengan Allah serta hubungan antar sesama. Pasal ketiga berisi nasihat agar manusia menjaga diri dari perbuatan tercela. Pasal keempat menekankan kebersihan hati dan jiwa. Pasal kelima menekankan budi pekerti. Pasal keenam menyoroti kebutuhan manusia dalam kehidupan sosial, seperti pentingnya sahabat, guru, pasangan hidup, dan teman yang berbudi. Pasal ketujuh menekankan pentingnya menjaga ucapan dan sikap. Pasal delapan mengajarkan untuk menjaga kehormatan diri serta orang lain. Pasal sembilan berisi nasihat tentang kedewasaan dan kebijaksanaan. Pasal kesepuluh menekankan hubungan anak dengan orang tua. Pasal sebelas menekankan budi pekerti sebagai dasar kehidupan. Adapun, pasal terakhir menekankan etika sosial, penghargaan terhadap ilmu, dan kesadaran hidup-mati.[3]

Lihat pula

Wikisource logo
Wikisumber memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini:

Referensi

  1. ↑ ditwdb (2019-04-30). "Gurindam Dua Belas Kepulauan Riau, Tradis dan ekpresi lisan". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Diakses tanggal 2023-08-25.
  2. ↑ "GURINDAM DUA BELAS". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 2015-12-17. Diakses tanggal 2023-08-25.
  3. 1 2 3 4 5 6 Deskripsi Seni Kepulauan Riau (PDF). Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman. 2014.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ "Warisan Budaya Takbenda | Beranda". warisanbudaya.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2023-08-25.
  5. ↑ Yayasan Tuanku Chalil. Gurindam Dua Belas: Gubahan Raja Ali Haji.
  6. ↑ Pauzi, dkk (2019). NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL (GURINDAM DUA BELAS), PADA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT SERTA KEPERCAYAANMASYARAKAT TERHADAP HUKUM DALAM CEGAH TANGKAL RADIKALISME DI TANJUNGPINANG KEPULAUAN RIAU. Bintan: STAIN SULTAN ABDURRAHAMAN PRESS. ISBN 978-623-90-371-6-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ Rakhmawati, Ani, dkk. "KUPAS TUNTAS GURINDAM 12: APRESIASI SASTRA KLASIK SEBAGAI UPAYA MENJAYAKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA" (PDF). https://repositori.kemdikbud.go.id/. Diakses tanggal 25 Agustus 2023.{{cite web}}: Tautan eksternal dalam |website=; line feed karakter dalam |title= pada posisi 26Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan