| Grand Hotel Preanger | |
|---|---|
Grand Hotel Preanger saat masa renovasi tahun 2025 | |
![]() Peta interaktif area Grand Hotel Preanger Bandung | |
| Jaringan hotel | Tribute Portfolio |
| Informasi umum | |
| Alamat | Jl. Asia Afrika No.81, Braga, Sumur Bandung, Bandung 40111 |
| Pembukaan | 1897;129 tahun lalu (1897) |
| Pemilik | Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat |
| Manajemen | Jaswita Jabar (di bawah lisensi dari Marriott International) |
| Data teknis | |
| Jumlah lantai | 9 |
| Desain dan konstruksi | |
| Arsitek | Charles Prosper Wolff Schoemaker Atelier 6 (1990) |
| Informasi lain | |
| Jumlah kamar | 187 |
| Jumlah rumah makan | 2 |
| Situs web | |
| www.marriott.com/en-us/hotels/bdogp-grand-hotel-preanger-bandung-a-tribute-portfolio-hotel/overview/ | |
Grand Hotel Preanger adalah hotel berbintang 5 yang terletak di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat. Didirikan pada tahun 1897, hotel ini merupakan salah satu hotel tertua di Bandung. Awalnya sebuah penginapan kecil yang dimiliki oleh pengusaha Belanda, hotel ini direnovasi besar-besaran menjadi sebuah hotel berkelas internasional pada tahun 1929. Saat ini, Grand Hotel Preanger dimiliki oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat melalui PT Jaswita Jabar. Sejak tahun 2026, hotel ini adalah bagian dari Tribute Portfolio, merek hotel Marriott International untuk hotel-hotel dengan identitas unik.
Sejarah


Grand Hotel Preanger memulai sejarahnya pada penginapan sederhana yang didirikan pada abad ke-19. Saat itu, Bandung hanyalah sebuah kota kecil yang disinggahi oleh pemilik perkebunan ketika mereka mengembara dari Batavia ke Priangan. Pada tahun 1897, W.H.C. Van Deeterkom membeli toko kecil milik C. P. E. Loheyde di Jalan Groote Postweg (sekarang Jalan Asia Afrika) dan menggabungkannya dengan dua penginapan di samping kanan dan kirinya, sebuah pesanggrahan dan hotel bernama Hotel Thiem. Penginapan baru tersebut diberi nama Hotel Preanger, nama yang diambil dari ejaan Belanda untuk "Priangan".[1]
Seiring dengan berkembangnya Bandung menjadi kota besar, pada tahun 1920, Deeterkom memutuskan untuk membangun kembali Hotel Preanger melalui hasil karya arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker yang bergaya Art Deco, menggantikan arsitektur lama hotel yang berbau Indische Empire. Juru gambar proyek renovasi Hotel Preanger adalah salah satu murid Schoemaker, Soekarno, yang kelak menjadi Presiden Pertama Indonesia. Pasca renovasi, Hotel Preanger bersalin nama menjadi Grand Hotel Preanger pada tahun 1929.[2] Naiknya prestise hotel membuatnya diminati oleh pelancong, pengusaha, dan diplomat saat mengunjungi Bandung. Dua tamu terkenal Grand Hotel Preanger adalah Charlie dan Sydney Chaplin, yang menginap di hotel tersebut saat mereka mengunjungi Hindia Belanda untuk merayakan ulang tahun ke-43 Charlie pada tahun 1932.[3] Pada tahun 1955, hotel ini menjadi salah satu tempat singgah tamu undangan dari Konferensi Asia–Afrika yang bertempatan tidak jauh dari hotel, tepatnya di Gedung Merdeka.[4]
Sepeninggalnya Deeterkom, Grand Hotel Preanger berganti kepemilikan selama beberapa kali, mulai dari NV Saut, CV Haruman, hingga beralih ke PD Kertawisata milik Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat pada tahun 1980. Hotel ini sempat mengalami kemunduran akibat mismanajemen hingga tahun 1987, ketika Pemerintah Daerah menekan kerja sama pengelolaan dengan Aerowisata untuk mengelola hotel tersebut. Di bawah Aerowisata, hotel mengalami perluasan dengan dibangunnya gedung bertingkat 9 yang terletak di pekarangan antara gedung utara dan gedung selatan, menghadap ke Jalan Tamblong. Gedung tersebut meningkatkan jumlah kamar hotel dari 56 menjadi 198. Setelah 3 tahun ditutup untuk direnovasi, pada tanggal 17 Maret 1990, Grand Hotel Preanger dibuka kembali dalam acara peresmian yang dihadiri oleh Soedharmono.[5]
Aerowisata mengelola Grand Hotel Preanger antara tahun 1990 dan 2020. Pada tanggal 25 April 2014, hotel bersalin nama menjadi Prama Grand Preanger, menjadikannya sebagai bagian dari jaringan hotel bermerek "Prama" yang dikhususkan untuk hotel-hotel Aerowisata berbintang 5.[6] Pada tanggal 2 Mei 2020, Aerowisata mengakhiri kontrak pengelolaan hotel dan menyerahkannya kembali ke Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat melalui PT Jaswita Jabar. Nama hotel lantas dikembalikan ke nama lamanya, Grand Hotel Preanger.[7]
Pada tanggal 1 Oktober 2026, Marriott International mengambil alih pengelolaan hotel pasca masa renovasi selama setahun. Nama hotel diganti menjadi Grand Hotel Preanger, Bandung, a Tribute Portfolio Hotel. Tribute Portfolio adalah merek hotel Marriott untuk properti-properti beridentitas unik.[8]
Referensi
- ↑ "Sejarah Panjang Hotel Preanger Bandung, Saksi Bisu Perubahan Zaman di Jatung Kota". Ayo Bandung. 17 Oktober 2025. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
- ↑ "Kisah Hotel Preanger Bandung bak Cerita Itik Si Buruk Rupa". Liputan6. 27 September 2017. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Saksi Bisu Kedatangan Charlie Chaplin di Bandung". Detik Travel. 11 Juli 2019. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
- ↑ "Kisah Salah Satu Hotel Tertua di Bandung, Berdiri Sejak 1897". Kompas. 24 Juli 2020. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
- ↑ "Grand Hotel Preanger". Setiap Gedung Punya Cerita. 24 Maret 2020. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
- ↑ "Hotel-hotel dari Aerowisata Berganti Nama". Kompas. 25 April 2014. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Jaswita Jabar resmi kelola Grand Hotel Preanger Bandung". Antara Jabar. 4 Mei 2020. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
- ↑ "Marriot Group Hotel Gelar Lari Amal, Satukan Langkah untuk Pejuang Kanker". RRI. 20 Agustus 2026. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
Pranala luar
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |
Artikel bertopik penginapan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |
