Jumat, 06 November 2026
04:48 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan

Georg Rimpler

Bagikan:

Georg Rimpler (1636 - 1683), adalah seorang insinyur ahli pertahanan asal Jerman, Letnan Kolonel, dan Kepala Insinyur Kekaisaran. Ia memainkan peran krusial dalam mempertahankan Wina dari kepungan Kesultanan Utsmaniyah dan meninggal dunia setelah mengalami luka serius saat pengepungan tersebut pada tanggal 2 atau 3 Agustus 1683[1].

Kehidupan awal

Rimpler lahir pada tahun 1636 di Leisnig, Elektorat Sachsen, ia adalah putra dari seorang tukang daging bernama Georg Rümpler.

Rimpler sempat bertugas sebagai prajurit Swedia dari sekitar tahun 1656 hingga 1661 dan hadir dalam beberapa pengepungan di wilayah Livonia. Antara tahun 1662–1669 ia memperoleh pendidikan liberal di bawah arahan Matematikawan dan pelukis Georg Christian Gorck di Nürnberg. Di sana ia mempelajari matematika, fortifikasi, sejarah, sejarah perang kuno, logika, dialektika, retorika, dan lain-lain.

Karier militer

Pada tahun 1669, Rimpler datang bersama rombongan Otto Wilhelm Königsmarck menuju Candia. Di sana ia diterima sebagai Letnan di pasukan bantuan (volunteer) Braunschweig-Lüneburg. Selama masa pengabdianya disana, ia secara khusus mempelajari seni peperangan bawah tanah (subterranean warfare) secara mendalam, yang kelak turut membesarkan namanya[1]. Pengalamanya menghadapi gaya perang Kesultanan Utsmaniyah juga terbukti berguna dikemudian hari[2].

Rimpler kemudian menawarkan jasanya kepada Prancis, yang memungkinkannya untuk ikut serta dalam kampanye militer melawan Belanda pada tahun 1672. Setelah itu, rekam jejak kegiatannya tidak banyak diketahui hingga ia muncul kembali pada tahun 1683 sebagai kepala insinyur Kekaisaran, dan menjadi tangan kanan Rüdiger Starhemberg[2].

Berbekal pengalamannya melayani Swedia, Prancis, dan terutama pengalaman melawan Turki di Candia saat masa baktinya di Venezia, Georg Rimpler direkrut pada tahun 1681 sebagai kepala insinyur Kekaisaran dan Monarki Austria dengan gaji tahunan dua ribu florin[2].

Ia mengajukan beberapa usulan kepada Dewan Perang Kekaisaran (Hofkriegsrath) terkait fortifikasi di perbatasan timur pada bulan Juni 1682, dan akhirnya usahanya membuahkan hasil dengan dikeluarkannya resolusi Kekaisaran pada 18 Desember[2].

Di sebelah utara Donau, garis pertahanan Neutra tidak lagi memberikan pertahanan yang memadai, karena pasukan Turki kini menguasai Neuhausel sebagai daerah kantong (enclave), dan dengan demikian menempatkan diri mereka di antara benteng Neutra dan sungai Donau. Oleh karena itu, penting bagi pihak Austria untuk mempertahankan benteng Leopoldstadt dan Trentschin di sungai Waag, serta mempertahankan garis pertahanan terakhir mereka di sepanjang sungai March dan di Pressburg[2].

Di pusat pertahanan Donau, terletak benteng Komorn, yang berada di sebuah pulau pada pertemuan sungai Neutra dan dua cabang sungai Donau yang membentuk pulau rawa yang sangat besar, Grosse Schütt[2]. Di depan sungai Leitha, Rimpler memperkirakan bahwa susunan rintangan alami tersebut akan mempersempit jalur gerak maju pasukan Turki langsung menuju benteng Györ. Benteng ini berdiri sekitar tujuh puluh mil dari Wina di pertemuan Sungai Raab dan cabang selatan sungai Donau. Di sinilah Rimpler bermaksud menahan momentum pasukan Turki[2].

Setelah menyarankan untuk memperkuat garis pertahanan benteng terluar (khususnya Györ), ia kemudian mengalihkan perhatiannya ke kota Wina itu sendiri. Dalam waktu beberapa hari yang ia miliki sebelum kedatangan pasukan Turki, tugas utamanya adalah memperbaiki garis pertahanan pertama, yaitu pagar kayu pelindung (palisade). Kemudian ia merancang titik-titik pertahanan kuat (strong point) yang baru agar lebih dekat dengan tembok kota. Ia memerintahkan pembuatan kubu pertahanan (blockhouse) baru dan titik-titik tembak baru di atas bastion dan ravelin. Ia merancang rintangan-rintangan sederhana, menggali parit, dan mendirikan titik-titik pertahanan sementara yang akan melindungi para prajurit musketeer dan pasukan artileri yang mengawasi parit pertahanan tersebut[3].

Pasukan Kesultanan Utsmaniyah tiba pada tanggal 14 Juli dan mengepung Wina selama 60 hari, membombardir kota tersebut dengan tembakan meriam serta menggali terowongan di bawah tembok pertahanan. Berdasarkan pengalamannya pada pengepungan Candia, Rimpler tahu bahwa taktik ini akan menjadi ancaman terbesar bagi pasukan bertahan, karena mereka memiliki sangat sedikit sarana untuk menangkal penggalian terowongan tersebut[3]. Pada tanggal 25 Juli, saat memimpin sebuah sortie, ia terkena tembakan yang menghancurkan lengannya. Ia meninggal dunia akibat luka tersebut pada tanggal 2 atau 3 Agustus[2].

Referensi

  1. 1 2 Biographie, Deutsche. "Rimpler, Georg - Deutsche Biographie". www.deutsche-biographie.de (dalam bahasa Jerman). Bayerische Staatsbibliothek. Diakses tanggal 2026-10-05.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 Duffy, Christopher; Duffy, Christopher (1985). The fortress in the age of Vauban and Frederick the Great, 1660-1789. Siege warfare. London ; Boston: Routledge & Kegan Paul. hlm. 14f. ISBN 978-0-7100-9648-7.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 Wheatcroft, Andrew (2009). The enemy at the gate: Habsburgs, Ottomans and the battle for Europe. New York: Basic Books. ISBN 978-0-465-01374-6.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan