Kamis, 29 Oktober 2026
06:38 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Benteng Margherita

Benteng Margherita

bangunan istana di Malaysia

Bagikan:
Benteng Margherita
330px-FortMargheritaTower.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Benteng Margherita - menara utama
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Benteng_Margherita&revid=19152771&groups=_a63600c652a8956393e096bcb6c8cf4530c4f4c6&parser=parsoid
Peta interaktif area Benteng Margherita
Informasi umum
StatusSudah selesai
JenisBenteng
LokasiKuching, Serawak, Malaysia
Koordinat1°33′38″N 110°20′58″E / 1.56056°N 110.34944°E / 1.56056; 110.34944
Mulai dibangunTidak diketahui
Selesai dibangun1879
PemilikPemerintah negara bagian Serawak
Data teknis
Jumlah lantai3
330px-Fort_Margherita_Kuching.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Benteng Margherita dibangun Rajah Charles dan dinamakan sesuai nama istrinya Ranee Margaret.

Benteng Margherita adalah sebuah benteng tua yang dibangun tahun 1879 oleh Charles Brooke, Rajah of Sarawak yang berlokasi di Kuching, Sarawak, Malaysia. Benteng ini merupakan mercu tanda dan monumen penting dalam sejarah Serawak pada masa kekuasaan dinasti Brooke. Benteng yang dibangun dengan gaya kastil Inggris ini dirancang untuk melindungi Kuching dari serangan bajak laut. Ia berfungsi sebagai Museum Polisi sejak tahun 1971, setelah itu diserahkan kepada pemerintah negara bagian Serawak dan kini adalah sebuah objek wisata di Kuching.

Benteng Margherita merujuk pada nama istri tercinta Charles Brooke, yaitu Margaret Alice Lili de Windt, yang dinikahinya di Highworth, Wiltshire pada 28 Oktober 1869; yang diberi gelar Ranee of Sarawak dengan panggilan Her Highness pada saat pernikahan mereka.[1]

Benteng ini dibangun di atas bukit yang menghadap ke Sungai Sarawak dan berada di tepi utara yang berseberangan dengan pusat kota Kuching yang ketika itu sedang berkembang pesat. Benteng ini dilengkapi dengan baik untuk melindungi pusat pemerintahan itu dari serangan dari arah sungai.

Bangunan bermenara tiga tingkat ini memiliki sebuah tempat pengawas di puncaknya, sebuah lapangan yang dikelilingi oleh tembok tinggi yang bertatahkan pecahan kaca tajam untuk perlindungan, jendela kayu yang tertanam ke dinding untuk tempat menembakkan meriam. Eksekusi tawanan dilakukan di lapangan tersebut, dan berlangsung sampai masa Pendudukan Jepang selama Perang Dunia II.

Benteng Margherita terletak di seberang Sungai Serawak tak jauh dari Astana, tempat kediaman resmi Yang DiPertua Negeri Sarawak. Fort Margherita dapat dicapai melalui jalan darat, yaitu selama 15 menit dari Petra Jaya, atau melalui jalur sungai dari Pangkalan Batu yang berada di depan Main Bazaar di Kuching Waterfront. Benteng tersebut saat ini letaknya berdampingan dengan Bangunan Dewan Undangan Negeri Sarawak Baru.[1]

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan