Jumat, 23 Oktober 2026
16:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Teori flogiston

Teori flogiston

Bagikan:
Teori Flogiston
Georg Ernst Stahl
Georg Ernst Stahl
Georg Ernst Stahl (1659–1734), tokoh utama pengembang teori flogiston.
PencetusJohann Joachim Becher
Tokoh utamaGeorg Ernst Stahl, Henry Cavendish, Joseph Priestley
EraAbad ke-17 dan ke-18
Digantikan olehTeori Oksidasi (Antoine Lavoisier)

Teori flogiston (dari Yunani Kuno φλογιστόν phlogistón "terbakar") adalah sebuah teori ilmiah usang yang memberikan postulat bahwa terdapat elemen serupa api yang disebut flogiston yang terkandung di dalam benda-benda yang dapat terbakar dan dilepaskan selama pembakaran.[1]

Meskipun kini dianggap salah, teori ini mendominasi pemikiran kimia selama hampir satu abad (1667–1770-an) dan berfungsi sebagai transisi penting dari era alkimia menuju kimia modern berbasis eksperimen.[2]

Sejarah dan Konsep

Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Johann Joachim Becher pada tahun 1667 melalui bukunya Physica Subterranea. Becher menyebutnya sebagai terra pinguis (tanah berminyak). Konsep ini kemudian disempurnakan menjadi "flogiston" oleh Georg Ernst Stahl pada awal abad ke-18.

Inti Teori

Menurut Stahl, semua benda yang dapat terbakar terdiri dari bagian-bagian penyusun, salah satunya adalah flogiston. Proses kimia yang terjadi dijelaskan sebagai berikut:

  • Pembakaran: Ketika sebuah benda terbakar, flogiston dilepaskan dari benda tersebut ke udara. Sisa pembakaran yang tertinggal (seperti abu) dianggap sebagai zat murni yang sudah kehilangan flogistonnya.
  • Kalsinasi: Logam dianggap terdiri dari kals (oksida logam) dan flogiston. Pemanasan logam akan melepaskan flogiston dan menyisakan kals.
  • Udara: Udara dianggap hanya berperan sebagai media pengangkut. Jika udara sudah jenuh dengan flogiston, api akan padam.

Masalah dan Paradoks Massa

Seiring perkembangan teknik pengukuran, para kimiawan menemukan bahwa ketika beberapa logam dibakar, massa residu yang dihasilkan justru lebih berat daripada logam aslinya.[3] Secara logika, jika sebuah benda kehilangan sesuatu (flogiston), massanya seharusnya berkurang. Para pendukung teori ini sempat mengajukan hipotesis spekulatif bahwa flogiston memiliki "berat negatif".

Runtuhnya Teori

Akhir dari teori flogiston dipicu oleh penemuan Oksigen dan kerja keras Antoine Lavoisier antara tahun 1770 hingga 1785.[4] Lavoisier membuktikan bahwa: 1. Pembakaran membutuhkan gas dari udara (oksigen). 2. Pertambahan massa logam berasal dari penggabungan logam dengan oksigen. 3. Hukum kekekalan massa: massa total zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama.

Relevansi Modern

Meskipun salah secara substansi, teori ini memiliki kemiripan struktur dengan konsep modern. Pelepasan flogiston dalam pembakaran secara mekanis mirip dengan pelepasan elektron dalam reaksi oksidasi-reduksi kimia modern.[3]

Referensi

  1. ↑ Wisniak, J. (2023). "Phlogiston: The Rise and Fall of a Theory". Education in Chemistry.
  2. ↑ Chang, H. (2012). Is Water H2O? Evidence, Realism and Pluralism. Springer Science & Business Media.
  3. 1 2 Schurz, G. (2022). Structural Correspondence and Scientific Realism. Routledge.
  4. ↑ McEvoy, J. G. (2010). The Search for Chemical Metaphysics in the Chymical Revolution. Foundations of Chemistry.

Bacaan Lanjutan

  • Conant, J.B. (1950). The Overthrow of the Phlogiston Theory. Harvard University Press.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan