Minggu, 27 September 2026
13:05 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Flagellata

Flagellata

250px-Haeckel_Flagellata.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
"Flagellata" dari Ernst Haeckel's Kunstformen der Natur, 1904
250px-Giardia_lamblia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Giardia lamblia
250px-Chlamydomonas_%2810000x%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Alga hijau (Chlamydomonas)

Flagellata atau Mastigophora dalam taksonomi kuno merupakan salah satu kelas dalam filum protozoa atau protista yang mirip hewan, tetapi dalam taksonomi modern menjadi superkelas yang dibagi menjadi dua kelas: Phytomastigophorea dan Zoomastigophorea. Alat gerak Flagellata adalah flagellum atau cambuk getar, yang juga merupakan ciri khasnya, sehingga namanya disebut Flagellata (flagellum = cambuk).[1] Flagellata juga memiliki alat pernapasan yang disebut stigma. Stigma ini berfungsi sebagai alat respirasi yang dilakukan untuk pembakaran hidrogen yang terkandung di dalam kornel.

Umumnya, Flagellata dapat hidup di semua perairan dan memiliki kecepatan yang tidak seberapa (Contohnya Dinoflagellata yang hanya mencapai jarak 10 m dalam waktu 12 jam).[2] Beberapa jenis Flagellata bersifat parasit dan merugikan, contohnya genus Trypanosoma dan genus Trichomonas. Trypanosoma gambiense dan Trypanosoma rhodesiense merupakan parasit pada darah manusia dan dapat menyebabkan penyakit tidur yang mematikan. Di Afrika, penularan dilakukan melalui lalat Tse-tse (Glosina palpalis).[3]

Morfologi

Flagellata memiliki sel yang tunggal dan mempunyai inti. Selain itu, Flagellata memiliki satu atau lebih bulu cambuk (flagella) yang keluar dari sel. Pada tingkatan yang paling rendah, sel-selnya masih telanjang dan hanya dibatasi oleh lapisan plasma yang lebih kental saja, sehingga tubuhnya dapat berubah bentuk (contohnya Amoeba). Sedangkan pada tingkatan yang lebih tinggi, selnya memiliki dinding sederhana yang terdiri atas pektin, selulosa, dan zat-zat lain, di mana memiliki strukur tambahan agar bisa melayang di dalam air. Pada beberapa jenisnya, setelah pembentukan dinding sel, plasmanya meninggalkan rumah, sehingga dapat hidup bebas atau membentuk koloni.[2]

Beberapa jenis yang bersifat ameboid (seperti Ochromonas) cara makannya seperti amoeba, tetapi sebagian besarnya dapat hidup secara autotrof karena memiliki kromatofora yang berwarna hijau, kuning kecoklatan, kadang-kadang kebiru-biruan, atau kemerah-merahan (bila kromatoforanya tidak berwarna, maka mereka hidup secara heterotrof). Di dalam medium buatan, kromatoforanya dapat berubah menjadi leukopas atau dapat terjadi mutasi seperti Euglena gracilis yang berubah menjadi Astasia longa akibat kehilangan plastida saat pemeliharaan.[2]

Sel-sel Flagellata memiliki vakuola berdenyut dan kebanyakan juga memiliki suatu bintik merah seperti mata yang dinamakan stigma, di mana stigma ini terbentuk dari metamorfosis kromatofora atau sebagian kromatofora dan berwarna merah karena mengandung karotenoid.[2]

Perkembangbiakan

Flagellata dapat memperbanyak diri secara aseksual, yaitu dengan cara membelah menurut poros bujur. Pada beberapa jenis seperti Dunaliella, selnya memiliki dua bulu cambuk dan kloroplas berbentuk piala yang mengandung pirenoid. Pirenoid ini dapat melebar melintang dan kedua bulu cambuknya saling berjauhan saat hendak membelah. Akibatnya, terjadinya lekukan, selnya membelah, dan terbentuklah dua individu baru dengan masing-masing memiliki satu bulu cambuk. Selain memperbanyak diri secara aseksual, Flagellata dapat memperbanyak diri secara seksual, yaitu dengan isogamet seperti yang dilakukan oleh Volvocales dan Dinoflagellata.[2]

Bebarapa jenis juga dapat mengeluarkan lendir, menghilangkan bulu cambuk, membulatkan sel, walaupun masih dapat melakukan perbanyakan secara aseksual., Selain itu, beberapa Flagellata memiliki waktu istirahat dengan membentum sista, di mana sista ini berasal dari sel yang membulat dan membentuk dinding atau terbentuk di dalam plasma. Biasanya, sista ini dapat menghasilkan beberapa sel anakan yang baru ketika berkecambah.[2]

Referensi

  1. ↑ "Flagellate | protozoan". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-04-29. Diakses tanggal 2020-11-27.
  2. 1 2 3 4 5 6 Tjitrosoepomo, Gembong (Januari 2023). Taksonomi Tumbuhan: Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta (Edisi 12 (Revisi)). Sleman, D.I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ISBN 9786233591454.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ "Lalat Tsetse, Serangga Penyebab Penyakit Tidur". Alodokter. 2020-01-12. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-08-13. Diakses tanggal 2020-11-27.
Wikispecies mempunyai informasi mengenai Mastigophora.


Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan