Jumat, 16 Oktober 2026
23:24 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super
Elisabeth Inandiak

Elisabeth Inandiak

Elisabeth D. Inandiak adalah seorang berkebangsaan Prancis yang sebagai wartawati, penerjemah, dan sastrawati yang banyak mempelajari kesusastraan Jawa, terutama dari era Sastra Jawa Baru.

Bagikan:
250px-Eli_Inandiak_DSC_1611s.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Elisabeth Inandiak (2015).

Elisabeth D. Inandiak (lahir 1960) adalah wartawati, penerjemah, dan sastrawati berkebangsaan Prancis yang banyak mempelajari kesusastraan Jawa, terutama dari era Sastra Jawa Baru. Pada 1989, ia "jatuh cinta" terhadap sastra Jawa dan memutuskan untuk menetap di Indonesia.[1] Ketertarikan ini menurutnya berawal sejak ia membaca disertasi M. Rasyidi (Menteri Agama pertama Indonesia) di Universitas Sorbonne, Paris.

Karya monumentalnya adalah penerjemahan Serat Centhini (karya sastra Jawa yang kental dengan perbincangan religius dan erotisme) ke dalam bahasa Prancis di bawah judul Les Chants de l’île à dormir debout – Le Livre de Centhini (terbit 2002), berhasil menjadikan dirinya sebagai penerima Prix littéraire de l'Asie ("Penghargaan sastra Asia") pada tahun 2003 oleh Perhimpunan Sastrawan Berbahasa Prancis (Pr.: Association des écrivains de langue française).[2] Naskah ini juga diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Penerjemahan lainnya adalah terhadap novel Saman karya Ayu Utami dalam bahasa Prancis (terbit 2008).

Sebenarnya, novel Serat Centhini adalah pengulangan dari novel lama, yang ditulis pada sekitar tahun 1800an. Serat Centhini yang mulai ditulis pada tahun 1814 – 1823 oleh Putera Mahkota Kerajaan Surakarta, Adipati Anom Amangkunagara III (Sunan Paku Buwana V) merupakan sebuah karya sastra besar di dunia. Setelah menjadi Raja Surakarta, Sunan Paku Buwana V mengutus tiga pujangga keraton yaitu Ranggasutrasna, Yasadipura II (Ranggawarsita I), dan Sastradipura untuk meneruskan membuat cerita tentang tanah Jawa melalui tembang-tembang Jawa. Hal ini sesuai dengan pernyataannya, ketika ia sedang berada di Yogyakarta, bahwa Serat Centhini adalah salah satu karya sastra terbesar di dunia yang keberadaannya mulai terancam sirna. Untuk itulah dia tertarik untuk menyadurnya ke dalam bahasa Prancis.[3]

Karya prosa yang diterbitkan pada tahun 2016 adalah Babad Ngalor Ngidul (berbahasa Indonesia), yang secara bersamaan juga diterbitkan dalam bahasa Prancis berjudul Tohu-Bohu. Kisahnya bercerita mengenai kejadian seputar letusan Gunung Merapi tahun 2010.

Kepustakaan

  1. ↑ "Elizabeth D. Inandiak: Babad Ngalor-Ngidul / Tohu Bohu". Diarsipkan dari asli tanggal 2017-01-14. Diakses tanggal 2016-10-17.
  2. ↑ Alfi, A.N. NOVEL BARU: Penulis Prancis Rilis Babad Ngalor Ngidul. Bisnis Indonesia daring. Edisi Rabu, 01/06/2016 07:37 WIB.
  3. ↑ "Profil Tokoh: Elisabeth Inandiak"[pranala nonaktif permanen]
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan