Rabu, 30 September 2026
09:51 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang
Diogenes dari Sinope

Diogenes dari Sinope

Bagikan:
Diogenes dari Sinope (Διογένης ὁ Σινωπεύς)
250px-Diogenes-statue-Sinop-enhanced.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Diogenes oleh John William Waterhouse, digambarkan beserta lampu minyak, tong, dan sisa-sisa makanan yang biasa ia makan.
Lahirc. 412 SM
Meninggal323 SM
Filsafat
EraFilsafat Kuno
WilayahFilsafat Barat
Filsafat Yunani, Mazhab Sinis
Minat utama
Asketisme, Sinisisme
Gagasan terkenal
filsafat sinisme

Diogenes dari Sinope adalah seorang filsuf yang termasuk ke dalam Mazhab Sinis.[1][2] Mazhab Sinis adalah salah satu mazhab yang berakar pada ajaran Sokrates.[2] Karena itu, Diogenes dari Sinope berpendapat, seperti Sokrates, bahwa manusia haruslah memiliki keutamaan tentang yang baik.[2] Akan tetapi, Diogenes berpendapat bahwa keutamaan tentang yang baik adalah ketika manusia memiliki rasa puas diri dan mengabaikan segala kesenangan duniawi.[3]

Diogenes dari Sinope dikenal dengan sebutan "si anjing" (dalam bahasa Yunani kunikos yang berarti anjing).[3] Hal itu dikarenakan ia sangat berani dalam menyatakan pandangannya layaknya seekor anjing yang menyalak.[3] Karena sikapnya yang menyimpang dari gaya santun Sokrates itu, Plato memberinya julukan sebagai "Sokrates yang Pemarah".[4]

Filsuf ini tidak meninggalkan satu karya pun.[2] Sumber utama tentang dirinya adalah buku "Hidup dan Pandangan Filsuf-Filsuf Ternama" yang dikarang oleh Diogenes Laertius.[2]

Riwayat Hidup

Diogenes berasal dari kota Sinope.[3][5] Ia hidup pada abad ke-4 SM, yaitu sekitar tahun 412-323 SM.[2] Setelah diusir dari kota asalnya, Diogenes pindah dan menetap di Athena.[3] Ia diusir dari kota kelahirannya karena ia, atau ayahnya, telah menghancurkan nilai mata uang di sana.[3][4] Setelah itu, diketahui juga bahwa ia menetap di Korintus dan akhirnya meninggal disana.[5]

250px-Alexander_visits_Diogenes_at_Corinth_by_W._Matthews_%281914%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Alexander Agung mengunjungi Diogenes oleh W. Matthews (1914)

Ia dipengaruhi oleh pemikiran Antithenes, pendiri Mazhab Sinis.[1][4] Akan tetapi, ia tidak menyetujui perilaku Antithenes yang dipandangnya tidak sesuai dengan apa yang diajarkannya.[1][5] Diogenes menyebut Antithenes sebagai, "Terompet yang berbunyi bagi dirinya sendiri".[5] Karena itu, Diogenes memilih untuk hidup sederhana untuk menunjukkan konsistensinya dengan apa yang diajarkannya.[5] Untuk itu, ia tinggal di dalam sebuah tong.[1][3][5] Selain itu, ia mencari makan dari sisa-sisa makanan yang ia temukan.[3]

Menurut tradisi, Diogenes dari Sinope pernah dikunjungi oleh Alexander Agung.[2] Ketika itu Diogenes sedang berjemur.[2] Alexander Agung bertanya kepadanya, "Apa sebenarnya yang engkau kehendaki?"[2] Kemudian Diogenes menjawab, "Pergilah, jangan menghalangi cahaya matahari menyinariku!"[2] Hal itu menunjukkan betapa Diogenes sangat konsisten terhadap pandangan hidupnya tentang kesederhanaan dan penolakan terhadap segala bentuk kuasa dan kesenangan.[4]

Pemikiran

Tentang Keadaan Manusia yang Alamiah

250px-Diogenes_looking_for_a_man_-_attributed_to_JHW_Tischbein.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Diogenes membawa pelita untuk mencari orang yang jujur

Menurut Diogenes, situasi masyarakat pada masanya telah rusak.[2][5] Dengan segala adat istiadat dan kebudayaan yang dihasilkannya, manusia tidak lagi menjadi alamiah dan jatuh pada sikap mencari enaknya sendiri.[2] Untuk mengkritik situasi tersebut, Diogenes mengabaikan segala adat istiadat yang berlaku di dalam masyarakatnya.[1] Dikisahkan pula bahwa Diogenes pernah membawa pelita yang menyala di tengah-tengah pasar pada siang hari untuk mencari adakah manusia yang jujur.[2][3] Hal itu dilakukannya untuk memberi kritik terhadap masyarakat yang tidak lagi hidup secara alamiah.[2] Dengan demikian, apa yang dimaksudkannya dengan keadaan manusia yang alamiah adalah bagaimana manusia hidup dengan standar minimal untuk hidup, dan tanpa masyarakat.[3]

Tentang Pengendalian Diri

Diogenes juga mengajarkan tentang pengendalian diri terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan kesenangan duniawi.[6] Kesenangan, nafsu, dan kemewahan haruslah dijauhi oleh manusia sebab hal-hal itulah yang membuat manusia dan masyarakat menjadi rusak.[4] Menurutnya, rasa lapar dan rasa sakit berguna untuk melatih moral manusia.[6] Bila manusia dapat mengendalikan diri terhadap segala kesenangan duniawi, barulah manusia dapat mencapai kebahagiaan dan ketenangan batin.[4]

Pengaruh

Diogenes dari Sinope adalah figur yang paling terkenal dari Mazhab Sinis, melebihi Antithenes yang merupakan pendiri mazhab tersebut.[6] Ia terkenal justru karena perilaku-perilakunya ketimbang pemikiran filsafatnya.[4] Dengan demikian, ia telah mengembangkan suatu cara pendidikan yang baru yang disebut epigram moral (chreia), yakni pengajaran melalui kisah-kisah dengan latar kehidupan nyata .[4]

Selain itu, ia membawa pengaruh besar terhadap Zeno dari Citium.[4] Zeno adalah filsuf pendiri Mazhab Stoa yang terkenal karena ia melawan konvensi yang ada.[4]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 92.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 43-44.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 (Inggris)Robert Audi, ed. 1999. "Cynics". In The Cambridge Dictionary of Philosophy. London: Cambridge University Press. P. 175.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 (Inggris)I.G. Kidd. 1972. "Diogenes of Sinope". In The Encyclopedia of Philosophy Volume One. Paul Edwards, ed. 409. New York: Macmillan Publishing.
  5. 1 2 3 4 5 6 7 (Inggris)Edward Zeller. 1957. Outlines of the History of Greek Philosophy. New York: Meridian Books. P. 128.
  6. 1 2 3 (Inggris)Albert A. Avey. 1954. Handbook in the History of Philosophy. New York: Barnes & Noble. P. 29.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan