Senin, 19 Oktober 2026
14:47 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Derafsh Kaviani

Derafsh Kaviani

Bagikan:
250px-%D8%AF%D8%B1%D9%81%D8%B4_%DA%A9%D8%A7%D9%88%DB%8C%D8%A7%D9%86%DB%8C.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Derafsh Kaviani (Persia: درفش کاویانی, har. 'Panji Kaveh') adalah bendera nasional legendaris dan historis Iran pra-Islam, yang terutama berfungsi sebagai panji resmi Kekaisaran Sasaniyah (224–651).

Panji tersebut dikaitkan dengan beberapa tokoh dalam mitologi Iran, yakni Kaveh sang Pandai Besi,[1] serta Jamshid dan Fereydun. Simbol-simbolnya berakar pada kisah-kisah legendaris yang berasal dari masa Kekaisaran Akhemeniyah. Dalam konteks penaklukan Muslim atas Iran, derafsh menjadi sangat penting sebagai lambang nasionalisme Iran, yang merupakan kekuatan pendorong di balik Intermezzo Iran. Saat ini, simbol tersebut masih terus hadir dalam budaya Iran, khususnya sastra, dan digunakan oleh Republik Tajikistan sebagai lambang resmi.

Sejarah

Asal-usul

Menurut sebuah kisah dalam mitologi Iran, takhta Iran pernah direbut oleh tiran Arab yang kejam bernama Zahhak, yang memerintah selama beberapa generasi sambil memberi makan dua ular di bahunya dengan dua orang setiap hari.[2]

Ketika para pelayan Zahhak membawa putra bungsu Kaveh sang Pandai Besi, ia menjadi murka, karena putra-putranya yang lain telah lebih dahulu dijadikan makanan bagi ular-ular tersebut. Ia kemudian mengangkat sebuah panji sebagai penanda dimulainya pemberontakannya, yang pada akhirnya menyebabkan tergulingnya Zahhak dan pemulihan pewaris sah takhta, Fereydun.[2][3]

Panji Kaveh adalah celemek kulit miliknya sendiri yang dililitkan pada sebuah tombak kayu, yang kemudian dihiasi oleh Fereydun dengan permata, emas, kain brokat, serta rumbai-rumbai merah, kuning (atau biru), dan ungu. Panji tersebut lalu menjadi standar kekaisaran Iran pra-Islam, dan dikenal sebagai Derafsh Kaviani, yang berarti "Panji para Kay (Raja)" atau "Panji Kaveh".[3]

Bendera itu dikatakan diwariskan melalui berbagai dinasti berturut-turut, yakni Akhemeniyah, Seleukia, Partia, dan Sasaniyah, yang memerintah Iran dari abad ke-3 SM hingga pertengahan abad ke-7 M. Sepanjang periode tersebut, bendera itu dihiasi dengan emas dan permata oleh para penguasa Iran. Namun, hanya ada sedikit bukti fisik mengenai keberadaan Derafsh Kaviani sebelum masa Kekaisaran Sasaniyah.[4]

Era pra-Islam

Teks Avesta, Akhemeniyah, dan Partia tidak secara khusus menyebut Derafsh Kaviani. Sejumlah akademikus berpendapat bahwa sebuah bagian rusak dari Mosaik Aleksander dari Pompeii, yang menggambarkan kekalahan penguasa Akhemeniyah Darius III oleh Aleksander Agung dalam Pertempuran Issos, menampilkan Derafsh Kaviani. Menurut Xenophon, seekor elang emas merupakan lambang Kekaisaran Akhemeniyah. Koin-koin Iran dari abad ke-3 dan ke-2 SM memperlihatkan gambaran Derafsh Kaviani, termasuk pada masa Baydad, frataraka (gubernur) Persis pada periode Seleukia.[5]

Menurut Shapur Shahbazi, lambang kekaisaran Kekaisaran Partia tampaknya adalah Derafsh Kaviani.[6] Pada era Sasaniyah, panji tersebut berfungsi sebagai representasi utama kekuasaan kekaisaran.[7] Panji itu memiliki latar ungu yang dipenuhi permata, sebuah bintang (akthar) sebagai lambang, serta rumbai-rumbai merah, emas, dan ungu. Panji tersebut juga umum disebut sebagai Akhtar-e Kāvīān karena lambang bintangnya.[8]

Runtuhnya Kekaisaran Sasaniyah dilambangkan dengan direbutnya Derafsh Kaviani oleh pasukan Arab-Muslim setelah Pertempuran al-Qadisiyyah dan meninggalnya panglima tertinggi Sasaniyah, Rostam Farrokhzad.[7] Sejak era pra-Islam hingga masa kini, Derafsh Kaviani tetap bertahan dalam kesadaran publik dunia Persia.[9]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Ayan, Vahid (Februari 7, 2026). "AYAN: Two flags, one message — what Iranians are really saying". Western Standard. Diakses tanggal Februari 8, 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 Lewental 2024, hlm. 5.
  3. 1 2 Khaleghi-Motlagh 1994.
  4. ↑ Lewental 2024, hlm. 6.
  5. ↑ Lewental 2024, hlm. 6–7.
  6. ↑ Shahbazi 1986, hlm. 489–499.
  7. 1 2 Lewental 2024, hlm. 7.
  8. ↑ Shahbazi 1999.
  9. ↑ Lewental 2024, hlm. 7–8.

Bibliografi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan