Selasa, 22 September 2026
02:55 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Cuju

Cuju

Cuju

330px-Chujutu.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Para gadis Tiongkok sedang bermain cuju, karya pelukis Dinasti Ming Du Jin
Hanzi: 蹴鞠
Makna harfiah: sepak bola
Alih aksara
Mandarin
- Hanyu Pinyin: cùjú
- Wade-Giles: ts'u chü
Min Nan
- Romanisasi POJ: chiok-kiok
Yue (Kantonis)
- Romanisasi Yale: tsuk1-guk1

Cuju, atau Tsu' Chu,[1] adalah sebuah permainan bola Tiongkok kuno, yang berasal dari kata Kanton "chuk-ko". Permainan tersebut merupakan sebuah permainan kompetitif yang melibatkan penendangan sebuah bola pada saat pembukaan ke dalam gawang.[1] Penggunaan tangan tidak diperbolehkan.[1] Permainan tersebut dipandang oleh FIFA sebagai bentuk terawal dari sepak bola karena keberadaannya pertama kali disebutkan sebagai kegiatan militer dari abad ke-3 sampai ke-2 SM meskipun pakar-pakar sepak bola modern memandang sepak bola modern merupakan hasil perkembangan dari "sepak bola mob" yang tidak ada hubungannya dengan cuju.[1][2][3] Cuju adalah sebuah olahraga kompetitif[1] yang berasal dari Tiongkok dan juga dimainkan di Korea, Jepang dan Vietnam. Kata Jepang untuk cuju adalah kemari yang masih diterapkan di Kyoto dan beberapa kuil lainnya di Jepang.[4]

Sejarah

250px-One_Hundred_Children_in_the_Long_Spring.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seratus Anak dalam Musim Semi yang Panjang (长春百子图), sebuah lukisan karya seniman Tiongkok Su Hanchen (苏汉臣, yang aktif pada 1130–1160an Masehi), Dinasti Song

Penyebutan pertama cuju dalam sebuah penulisan sejarah adalah pada zaman Negara-Negara Berperang Zhan Guo Ce, dalam bagian yang mengisahkan tentang negara Qi. Permainan tersebut juga disebutkan dalam Catatan Sejarawan Agung karya Sima Qian (pada bagian biografi Su Qin), yang ditulis pada masa Dinasti Han.[5] Sebuah bentuk kompetitif dari cuju digunakan sebagai pelatihan pemanasan untuk kavaleri militer, meskipun bentuk lainnya dimainkan dengan tujuan hiburan di kota-kota sejahtera seperti Linzi.[5]

Lihat pula

Catatan

  1. 1 2 3 4 5 "History of Football - The Origins". FIFA. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-09-26. Diakses tanggal 29 April 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-07-01. Diakses tanggal 2015-09-17.
  3. http://www.bangkokpost.com/print/413747/
  4. Ike[2014:181]
  5. 1 2 Riordan (1999), 32.

Referensi

  • Benn, Charles (2002). China's Golden Age: Everyday Life in the Tang Dynasty. Oxford: Oxford University Press. ISBN 0-19-517665-0.
  • James, Riordan (1999). Sport and Physical Education in China. London: Spon Press. ISBN 0-419-22030-5
  • Osamu Ike (2014). Kemari in Japan(in Japanese). Kyoto: Mitsumura-Suiko Shoin. ISBN 978-4-8381-0508-3
    • Summary in English pp. 181–178. in French pp. 185–182.

Pranala luar

Templat:Olahraga Berkelompok

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan