Senin, 21 September 2026
08:22 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Buyut

Buyut dapat mengacu pada beberapa hal berikut:

Asal-usul Kata Buyut

Dalam budaya Jawa, istilah buyut dipakai untuk menyebut leluhur yang lebih tua dari kakek-nenek, biasanya generasi ketiga atau keempat ke atas. Ungkapan ini umum dijumpai dalam silsilah keluarga Jawa: bapak-ibu, simbah (kakek/nenek), buyut, canggah, wareng, udeg-udeg, hingga pitu turunan. Mbah buyut dengan demikian menandai sosok leluhur yang menjadi asal mula cabang keluarga, yang posisinya lebih jauh dibandingkan kakek-nenek langsung.

Asal-usul kata buyut diduga berkaitan dengan kosakata Arab بَيْت (bayt) yang berarti rumah. Kata ini dalam bentuk jamak menjadi بُيُوت (buyūt), yang berarti rumah-rumah. Dalam tradisi bahasa Arab, istilah bayt memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar bangunan tempat tinggal. Bayt juga dapat merujuk pada keluarga, rumah tangga, bahkan garis keturunan. Misalnya, frasa Ahl al-Bayt berarti “keluarga rumah Nabi” atau “keluarga Nabi Muhammad”. Dengan makna yang meluas inilah muncul dugaan bahwa kata buyut diadopsi ke dalam tradisi Jawa untuk menyebut “leluhur dari rumah-rumah” atau asal mula keluarga besar.

Selain kaitan dengan makna keluarga, terdapat pula penafsiran yang menghubungkan buyut dengan kondisi orang yang telah sepuh. Semakin tua seseorang, semakin besar kemungkinan ia menetap di rumah. Hal ini sering dikaitkan dengan ungkapan Al-Qur’an: وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ (wa qarna fī buyūtikunna) yang berarti “tetaplah kalian di rumah-rumah kalian” (QS. al-Ahzab: 33). Dari konteks inilah muncul pemaknaan kultural bahwa mbah buyut adalah orang tua yang aktivitasnya berpusat di rumah, tidak lagi banyak melakukan perjalanan atau pekerjaan di luar.

Dengan demikian, istilah buyut dalam bahasa Jawa memuat dua lapisan makna yang saling melengkapi. Pertama, ia menunjuk pada leluhur jauh yang menjadi asal-usul beberapa cabang keluarga atau rumah tangga. Kedua, ia melambangkan sosok sepuh yang kehidupannya lebih banyak dijalani di dalam rumah. Gabungan kedua makna inilah yang kemudian memperkuat penggunaan kata mbah buyut dalam tradisi masyarakat Jawa sebagai sebutan hormat kepada leluhur.

Ikon disambiguasi
Halaman disambiguasi ini berisi artikel dengan judul yang terkait dengan Buyut.
Jika Anda mencapai halaman ini dari sebuah pranala internal, Anda dapat membantu mengganti pranala tersebut ke judul yang tepat.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan