
| Bukit Menumbing | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hanzi: | 琴山[1] | ||||||||||
| |||||||||||
Bukit Menumbing di adalah sebuah bukit di wilayah Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat.[2] Bukit Menumbing memiliki ketinggian 355 meter dari permukaan laut.[2]
Wisma Menumbing
Di puncak bukit ini terdapat Wisma Menumbing atau Pesanggerahan Menumbing yang merupakan tempat pengasingan mantan presiden Indonesia, Soekarno.[3][4] Wisma ini memiliki satu bangunan utama dengan beberapa fasilitas umum lainnya. Bangunan tersebut dibangun pada masa penjajahan Belanda, sekitar tahun 1928 -1933. Wisma Menumbing memiliki 25 kamar, 24 diantaranya telah dikomersialkan untuk umum, sementara satu kamar tidak dikomersialkan yakni kamar 102.[4] Berdasarkan informasi yang tertulis pada kamar 102, inilah tempat Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. Ag. Pringgodigdo, Komodor Surya Darma, dan Mr. Assa’at diasingkan sejak tanggal 22 Desember 1948 hingga 7 Juli 1949.[4] Di dalam kamar tersebut, terdapat koleksi foto-foto Bung Karno selama pengasingan di Mentok dan sebuah sedan Ford berwarna hitam buatan tahun 1948 dengan nomor polisi BN 10.[4]
- Wisma Menumbing
- Pemandangan dari Wisma Menumbing
Riwayat Bangunan dan Alih Fungsi
Sebelum digunakan sebagai tempat pengasingan, bangunan di puncak Gunung Menumbing ini merupakan wisma peristirahatan milik perusahaan tambang timah Bangka Tin Winning Bedrijf (BTW). Pada laporan yang disusun pada 2002, bangunan tersebut telah beralih fungsi menjadi hotel dan restoran bernama Jati Menumbing, yang hak pengelolaannya dipegang oleh perusahaan swasta lokal, Karameta Group, dari pemerintah daerah sejak dua tahun sebelumnya. Lantai atas gedung ini telah disulap menjadi tiga puluh kamar hotel dengan tarif Rp150.000 hingga Rp250.000 per malam, sementara pemandangan ke arah pantai yang dulu biasa dinikmati Hatta kini terhalang oleh dinding restoran yang berdiri di depannya. Meski demikian, ruang pertemuan seluas 5 × 6 meter di lantai bawah gedung, tempat Hatta menghabiskan sepuluh hari pertamanya di Bangka sebagai tahanan, serta bodi mobil Ford hitam bernomor polisi BN 10 yang menjadi kendaraan resminya selama pengasingan, masih dipertahankan sebagai koleksi museum sederhana di sana.[5]
Kesaksian Warga tentang Kedatangan Hatta
Affan Alwi, keponakan fotografer Zulkarnaen, menuturkan kepada TEMPO bagaimana pamannya melihat mobil Ford bernomor polisi BN 10 yang ditumpangi Hatta melaju di bawah pengawalan pasukan khusus Belanda, Corps Speciale Troepen, dari arah Pangkalpinang menuju Mentok pada 22 Desember 1948. Pada malam harinya, Zulkarnaen bersama seorang wedana setempat, K.Z. Abidin, mendaki ke puncak Gunung Menumbing dan berhasil bertemu Hatta untuk berfoto bersama; menurut Affan, pamannya sempat berteriak "merdeka" dan langsung dipeluk oleh Hatta. Sejarawan Deliar Noer turut mencatat bagaimana rakyat setempat memberikan penghormatan besar kepada Hatta dan tokoh-tokoh lain yang ditahan di Bangka, sampai-sampai para penjual di pasar menolak menerima pembayaran dari mereka.[6]
Rutinitas dan Kedisiplinan Hatta
Selama di pengasingan, Hatta mengisi waktu dengan membaca buku serta sesekali bermain catur atau bridge, yang biasanya diakhiri sebelum pukul 21.00 karena ia akan menyudahi permainan dan meminta rekan-rekannya beristirahat. Kedisiplinannya terhadap waktu membuat para saksi seperti Zulkarnaen dan Raden Pandji tak habis pikir; suatu ketika seorang wartawan asing yang datang untuk mewawancarainya harus menunggu di luar karena tiba setengah jam lebih awal dari waktu yang disepakati. Hatta juga aktif menekankan pentingnya koperasi bagi kesejahteraan warga melalui ceramah di sekolah maupun dalam peringatan hari nasional di Mentok.[7]
Referensi
- ↑ 客家區域文化叢書: 印度尼西亞客家, 羅英祥 (2014). "文島市琴山旅館" p.353
- 1 2 (Indonesia) Berwisata Di Gunung Menumbing Sambil Menikmati Sejarah Bung Karno Dan Bung Hatta[pranala nonaktif permanen], telusurindonesia.com. 20-07-2016
- ↑ (Indonesia) Mengintip Jejak Cinta Bung Karno di Pesanggerahan Menumbing, kompas.com. 20-07-2016
- 1 2 3 4 BUNG KARNO PERNAH DI SINI, SAAT DIBUANG SAMA BELANDA, diakses tanggal 2022-12-25
- ↑ TEMPO (2022). Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9786024817633.
- ↑ TEMPO (2022). Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9786024817633.
- ↑ TEMPO (2022). Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9786024817633.
Artikel bertopik geografi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |