Kamis, 22 Oktober 2026
02:56 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama

F. Budi Hardiman

Bagikan:

Prof. Dr. Fransisco Budi Hardiman (lahir 31 Juli 1962) adalah Guru Besar Filsafat pada Universitas Pelita Harapan Jakarta. Ia memperkenalkan pemikiran kritis Jurgen Habermas ke dalam masyarakat Indonesia lewat dua bukunya, "Kritik Ideologi" dan "Menuju Masyarakat Komunikatif". Setelah menerbitkan kedua karyanya itu ia belajar filsafat di Munich Jerman untuk meneliti Teori Diskursus yang dirumuskan oleh Habermas.[1][2]

Kerusuhan-kerusuhan massa yang terjadi di Indonesia telah mengubah minat risetnya dari teori kritis menuju riset tentang kekerasan massa. Sekembalinya ke tanah air, ia mulai memikirkan dasar-dasar antropologis negatif dari kendala-kendala menuju demokrasi yang masih sering dialami masyarakat Indonesia. Disertasinya berjudul "Die Herrschaft der Gleichen. Eine kritische Ueberpruefung der Texte von Georeg Simmel, Hermann Broch, Elias Canetti, und Hannah Arendt" diterbitkan oleh Peter Lang Verlag Jerman.

Setelah menerbitkan serangkaian artikel dan berceramah tentang tema kekerasan dan teror, akhirnya pada tahun 2005 terbitlah karyanya "Memahami Negativitas. Diskursus tentang Massa, Teror dan Trauma", sebuah pergumulan filosofis di tengah-tengah peristiwa-peristiwa kerusuhan dan tragedi-tragedi kemanusiaan yang terjadi di Indonesia. Di dalam karya ini dia berupaya menunjukkan bahwa manusia sangat terbuka terhadap perversi nilai-nilai dan memiliki hati yang pengecut sehingga mudah dimobilisasi sebagai massa yang melakukan kekerasan.

Dari tahun 1992 sampai 2018 ia menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, dan dari 2001 sampai sekarang nengajar di Universitas Pelita Harapan Jakarta.

Karyanya "Filsafat Fragmentaris" (Kanisius, 2007) berbicara tentang tiga tradisi besar filsafat kontemporer, yaitu fenomenologi, teori kritis dan dekonstruktivisme yang sampai pada penemuan ciri fragmentaris pengetahuan manusia. Karya itu membahas tiga misteri besar, yaitu tubuh, kesadaran dan kekuasaan. Pada tahun 2009 Penerbit Kanisius menerbitkan trilogi Habermas yang salah satu di antaranya adalah karyanya yang berjudul Demokrasi Deliberatif. Beberapa karya yang ditulisnya kemudian adalah "Humanisme dan Sesudahnya" (Kepustakaan Populer Gramedia, 2012), alam Moncong Oligarki (Kanisius, 2013), Seni Memahami (Kanisius, 2015), dan beberapa karya suntingan antara lain: Filsafat untuk Para Profesional (Kompas, 2016), Franz Magnis Suseno. Sosok dan Pemikirannya (Kompas, 2016). Buku-buku terbarunya antara lain: Demokrasi dan Sentimentalitas (Kanisius, 2018) dan Aku Klik maka Aku Ada (Kanisius, 2021)

Referensi

  1. ↑ "Fransisco Budi Hardiman - Google Scholar Citations". scholar.google.co.id. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-01-30. Diakses tanggal 2019-02-20.
  2. ↑ Fatih, Al. "Makalah Etika Politik Habermas Oleh: F. BUDI HARDIMAN" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-03-19. Diakses tanggal 2019-02-20.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=

Pranala luar


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan