Rabu, 04 November 2026
09:15 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Bioma antropogenik

Bioma antropogenik

Bagikan:
500px-Anthrome_map_v1_600.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bioma antropogenik (Ellis & Ramankutty 2008)

Bioma antropogenik, kadang disebut antroma atau bioma manusia, adalah istilah untuk menyebut biosfer daratan modern yang sudah dipengaruhi manusia menggunakan satuan ekosistem global berdasarkan pola interaksi langsung manusia dengan ekosistem secara global.

Selama lebih dari satu abad, biosfer dalam satuan ekosistem global disebut bioma. Bioma adalah jenis tumbuhan seperti hutan hujan tropis dan dataran rumput yang dikenali berkaitan dengan pola iklim global. Mengingat keberadaan manusia dan pemanfaatan lahan telah mengubah pola ekosistem, proses, dan keragaman hayati global, bioma antropogenik menjadi kerangka untuk memadukan sistem manusia dengan biosfer di kala Antroposen.

Antroma mencakup permukiman padat (perkotaan dan permukiman campuran), desa, sawah, peternakan, dan dataran semialami yang sudah dipetakan secara global menggunakan dua sistem pengelompokkan berbeda. Antroma dapat dilihat di Google Maps dan Google Earth.[1]

Lihat pula

Referensi

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik habitat ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Ikon rintisan

Artikel bertopik antropologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan