Minggu, 27 September 2026
06:54 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Owa bilau

Owa bilau

Owa bilau[1]
250px-Hylobates_klossii_B.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
CITES Apendiks I (CITES)[3]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Subordo: Haplorhini
Infraordo: Simiiformes
Famili: Hylobatidae
Genus: Hylobates
Spesies:
H. klossii
Nama binomial
Hylobates klossii
(Miller, 1903)
250px-Kloss%27s_Gibbon_area.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta sebaran spesies

Owa bilau, bilou, owa bilou[4] atau owa mentawai (Hylobates klossii) adalah suatu jenis kera unik dalam famili Hylobatidae yang mirip dengan siamang, namun kerdil dan menyebar terbatas (endemik) di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Sekujur tubuh bilou jantan, betina dan anak dipenuhi oleh rambut berwarna hitam. Berat tubuh jantan dan betina dewasa rata-rata 5,5 kg. Panjang tubuh sekitar 45 cm.

Habitat bilou adalah Kepulauan Mentawai. Distribusinya adalah Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan.[4]

Habitat dan persebaran

Owa bilau merupakan satwa endemik kepulauan mentawai (Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan). Primata ini dikategorikan sebagai satwa arboreal dan diurnal yang menghuni lapisan kanopi atas hutan tropis. Spesies ini bersifat omnivora dengan kecenderungan frugivora; buah-buahan menyumbang sekitar 73% dari waktu makannya, sedangkan serangga dan arthropoda sekitar 25%. [5]

Habitatnya meliputi hutan gugur, hutan musim, hutan hujan tropis selalu hijau, serta hutan rawa pada berbagai ketinggian, dengan curah hujan tahunan yang dapat mencapai 4.000 mm. Luas wilayah jelajahnya bervariasi, dilaporkan antara 7–11 hektare hingga sekitar 32 hektare, bergantung pada kondisi habitat dan ketersediaan pakan. [5]

Owa bilau hidup dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri atas 4–6 individu dengan sistem sosial monogami. Jarak pergerakan harian rata-rata sekitar 1,5 kilometer. Reproduksi berlangsung sepanjang tahun dengan kelahiran tunggal. Sejumlah survei menunjukkan bahwa kepadatan populasi relatif serupa di hutan primer maupun hutan yang telah mengalami penebangan selektif dalam rentang waktu 10–20 tahun, selama struktur kanopi tetap terpelihara.[5]

Konservasi

Satwa ini dilindungi berdasarkan UU RI No.5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1999. Status CITES: Appendix I/Tahun 2001. Status IUCN: Terancam (Endangered).[6] Bilou mengalami bahaya kepunahan akibat perburuan, perdagangan dan kehilangan habitat. Satwa ini biasanya dijadikan binatang peliharaan.

Catatan kaki

  1. ↑ Groves, C. P. (2005). "Order Primates". Dalam Wilson, D. E.; Reeder, D. M (ed.). Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference (Edisi 3). Johns Hopkins University Press. hlm. 179. ISBN 978-0-8018-8221-0. OCLC 62265494.
  2. ↑ Liswanto, D.; Whittaker, D.; Geissmann, T.; Whitten, T. (2020). "Hylobates klossii". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2020 e.T10547A17967475. doi:10.2305/IUCN.UK.2020-2.RLTS.T10547A17967475.en. Diakses tanggal 19 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite iucn}}: uses deprecated |page= identifier (help)
  3. ↑ "Appendices | CITES". cites.org. Diakses tanggal 2022-01-14.
  4. 1 2 Payne, J., C.M. Francis, K. Phillipps, S.N. Kartikasari. 2000. Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan, Sabah, Sarawak & Brunei Darussalam: 360. Bogor: WCS-IP, The Sabah Society & WWF Malaysia.
  5. 1 2 3 Liswanto, D., Whittaker, D.; et al. (last version 2020). "Hylobates klosii". The IUCN Red List of Threatened Species. Diakses tanggal 2026-03-02.{{cite web}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam: |last=; Periksa nilai tanggal dalam: |date=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  6. ↑ Whittaker, D. & T. Geissmann. 2008. Hylobates klossii. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2014.3. <www.iucnredlist.org>. Downloaded on 23 January 2015.


Ikon rintisan

Artikel bertopik hewan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan