Minggu, 27 September 2026
07:06 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Kedwibahasaan

Kedwibahasaan

fasih dalam dua bahasa atau lebih

250px-Basel_Bahnhof_SBB_06.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kedwibahasaan

Kedwibahasaan (atau bilingualisme) adalah kemampuan menuturkan dua bahasa dengan baik.[1][2] Kedwibahasaan adalah perihal pemakaian dua bahasa seperti bahasa daerah dan bahasa nasional dalam berkomunikasi untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang suatu informasi tertentu.[2][3] Setiap masyarakat yang di dalamnya terdapat kedwibahasaan sebagai pola sistem komunikasi masyarkatnya mempunyai variabel tertentu yang menentukan jenis masyarakat dwibahasa.[4]

Faktor-faktor pengaruh kedwibahasaan

Adanya kedwibahasaan karena dipengaruhi beberapa faktor luar yaitu pergaulan hidup di keluarga, pergaulan di masyarakat, serta kemajuan teknologi, komunikasi, dan transportasi.[1] Sedangkan faktor intern yang memengaruhi ragam kedwibahasaan seseorang adalah tahapan usia pemeroleh, usia belajar B2 (bahasa ke dua), berdasarkan konteks, berdasarkan hakikat tanda dalam kontak bahasa, tingkat pendidikan, keresmian komunikasi, dan kesosialan.[5]

Jenis pemerolehan kedwibahasaan

Kedwibahasaan mempunyai jenis dan penggolongan dalam persebarannya antara lain adalah tipe ketersebaran perorangan dalam masyarakat, karena jika seseorang berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang baru akan membawa dialek yang baru juga.[6] Kedua adalah jenis horizontal dan vertikal di mana suatu bahasa yang sama tetapi digunakan oleh kelompok penutur yang sama dalam kehidupannya sehari-sehari untuk berkomunikasi dengan penutur yang berbeda.[6] Ketiga, cara terjadinya tipe kedwibahasaan dapat dibedakan dari kedwibahasaan alamiah dan kedwibahasaan utama.[7] Terakhir, adalah tipe kemampuan memahami dan mengungkapkan suatu informasi yang diperoleh dari orang lain, baik secara aktif maupun pasif.[7]

Tindaklanjut kedwibahasaan

Kedwibahsaan mengalami perkembangan dalam berbagai bentuk, secara umum perkembangan kelanjutan kedwibahasaan dapat diimplementasikan dengan konsep tetap berdwibahasa.[8] Tetap berdwibahasa yang dimaksud adalah tetap mempertahankan adanya dua bahasa tersebut yang dikenal sebagi bahasa daerah dan bahasa ibu.[9] Menjadikan kebiasaan kedwibahasaan dalam cara berkomunikasi kebiasaan yang berbudaya.[10]

Lihat pula

Rujukan

Catatan kaki

  1. 1 2 Kamaruddin 1989, hlm. 1.
  2. 1 2 Kamaruddin 1989, hlm. 2.
  3. ↑ Tarigan 1988, hlm. 6.
  4. ↑ Kamaruddin 1989, hlm. 39.
  5. ↑ Tarigan 1988, hlm. 5.
  6. 1 2 Kamaruddin 1989, hlm. 23.
  7. 1 2 Kamaruddin 1989, hlm. 27.
  8. ↑ Tarigan 1988, hlm. 12.
  9. ↑ Kamaruddin 1989, hlm. 19.
  10. ↑ Tarigan 1988, hlm. 36.

Daftar pustaka

  • Kamaruddin (1989), Panduan Mengajar Buku Kedwibahasaan dan Pendidikan Dwibahasa, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  • Tarigan, Henry Guntur (1988), Pengajaran Kedwibahasaan, Bandung: Angkasa
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan