Sabtu, 31 Oktober 2026
21:26 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Beto'ok

Bagikan:

Beto'ok atau dalam dialek Bermani Ilir (Kepahiang) disebut betohok, merupakan salah satu tradisi menanam padi khas masyarakat Rejang. Istilah ini didapat melalui pemakaian to'ok atau tohok, yaitu sebuah alat berupa kayu dengan panjang ± 2 meter. Menanam padi dengan to'ok biasanya dilakukan secara bergotong royong dan tradisi ini dilangsungkan secara turun temurun. Padi yang ditanam dengan to'ok meliputi baik padi lahan basah atau padi sawah, maupun padi lahan kering atau padi darat.

Konon tradisi ini berasal dari masyarakat Rejang Sawah yang mendiami daerah dataran rendah di Renah Pesisir, di wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah dan Bengkulu Utara yang sekarang. Pada masa tersebut Rejang Sawah telah mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Sungai Serut, yang dipimpin oleh Raja Racu. Karena bukan cuma mengenai penanaman padi, melainkan ritual kolektif, dalam proses beto'ok biasanya diadakan jamuan makan bersama dengan menyembelih ayam atau kambing, serta cendol disediakan sebagai hidangan penutup.[1]

Referensi

  1. ↑ Anatona (ed) 2013, hlm. 155. sfn error: tanpa target: CITEREFAnatona_(ed)2013 (bantuan)

Daftar pustaka

  • Warisan Budaya Tak Benda di Provinsi Bengkulu. Padang: Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang. 2013. hlm. 155.{{cite book}}: |first= memiliki nama generik; |first= tidak memiliki |last=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan