Sabtu, 24 Oktober 2026
01:27 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Benteng Tabanio

Benteng Tabanio

bangunan kuil di Indonesia

Bagikan:
Benteng in Kabupaten Tanah Laut, IndonesiaTemplat:SHORTDESC:Benteng in Kabupaten Tanah Laut, Indonesia
Benteng Tabanio
Benteng Tabuniaw
330px-13-c._Tabanio.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sketsa Benteng Tabanio
osm-intl,13,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Benteng_Tabanio&revid=28440891&groups=_fe3db1df713aa86c505bf151ea31b3e005725866&parser=parsoid
Peta interaktif area Benteng Tabanio
Nama lainFort Tabanio
Informasi umum
JenisBenteng
Gaya arsitekturHindia Belanda
LokasiKabupaten Tanah Laut
AlamatDesa Tabanio
NegaraIndonesia Indonesia
Mulai dibangun1779

Benteng Tabanio (bahasa Inggris: Fort Tabanio) adalah bekas benteng historis sebagai pusat pertahanan militer Belanda yang terletak di Distrik Tabanio (sekarang Desa Tabanio), Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Sejarah

Pada abad ke-17 Tabanio merupakan sebuah kampung kecil di sekitar sungai Tabanio di pantai selatan Kalimantan. Kampung tersebut merupakan kawasan strategis dengan potensi ekonomi yang tinggi karena hasil lada, perikanan, dan tambang emas di daerah Pelaihari. Pada tanggal 6 Juli 1779 VOC membuat perjanjian dengan Sultan Banjar mengenai monopoli perdagangan. Pada pasal 7 perjanjian tersebut mengatur mengenai pembangunan benteng di Tabanio. Lalu mereka(VOC) membangun sebuah benteng yang berbentuk segi empat tidak beraturan di sekitar muara Sungai Tabanio. Masing-masing sudut benteng diperlengkapi dengan bastion yang berbangun bundar. Pintu gerbang menghadap ke laut. Tembok benteng terbilang cukup tinggi, yakni setinggi tubuh gapura.[1] Pada 1791, seorang insinyur Belanda, C. F. Reimer sebenarnya telah merancang sebuah desain benteng yang cukup besar di lokasi tersebut, tetapi sepertinya tidak direalisasikan.[2]

500px-Denah_Fort_Tabanio.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Desain Proyek Perluasan Benteng Tabanio yang dirancang oleh C. F. Reimer pada tahun 1791

Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang berkuasa antara tahun 1801-1818 suatu ketika memerintahkan untuk meninggalkan pos-pos perdagangan yang merugi di Kalimantan, termasuk di Tabanio. Pada tahun 1826 Sultan Adam dari Kesultanan Bandjar membuat kesepakatan dengan pemerintah Hindia Belanda di mana sultan menyerahkan daerah yang jarang penduduk di sekitar Tabanio. Kemudian benteng di Tabanio digunakan sebagai pusat pemerintahan sipil di daerah tersebut dan sekitarnya. Pada 1854 pemerintahan sipil dipindah dari Tabanio ke Pelaihari dan benteng tersebut kemudian ditinggalkan. Pelaihari berkembang menjadi wilayah penting saat itu karena adanya pertambangan batubara yang menghasilkan bahan bakar untuk kapal uap yang jumlahnya terus meningkat.

330px-Sketsa_Benteng_Tabanio.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sketsa lokasi Benteng Tabanio (Rees, 1867)[3]

Pada bulan Mei 1859 pemberontakan melawan Belanda meletus, yang kemudian disebut Perang Banjar (1859-1863). Sekelompok pejuang di bawah Kiai Demang Lehman, Kiaij Langlang (Kiai Langlang) dan Hadji Boeijasin (Haji Buyasin) menduduki benteng di Tabanio dan menghabisi pemegang pos di benteng tersebut. Kemudian Belanda merebut kembali benteng itu pada Agustus 1859. Lalu lima puluh prajurit dan dua meriam ditempatkan di benteng tersebut. Tabanio dijadikan basecamp untuk pengamanan area tersebut. Benteng Tabanio yang terdaftar sebagai benteng kelas 4 (untuk melawan musuh pribumi), kemudian dihapuskan dari daftar inventaris alat pertahanan Hindia Belanda.[2]

Pejuang Perang Banjar di Benteng Tabanio

  • Hadji Abdoe Rachman & Mohamad bergelar Kiai Demang Astra Wijaya.[4]

Lihat juga

Referensi

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan