Jumat, 06 November 2026
04:08 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan

Balide Comarca

Bagikan:

Balide Comarca adalah salah satu museum dan bekas penjara yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1963 di Dili, Timor-Leste. [1] [2]

Konstruksi

Pada tahun 1963, pemerintahan kolonial Portugis membangun sebuah penjara untuk menggantikan penjara lama di belakang Istana Pemerintah. Kawasan penjara yang baru ini dibangun di atas lahan rawa yang terkenal dengan nyamuknya.[1][2]

Untuk alasan keamana maka penjara tersebut kemudian dikelilingi oleh bangunan militer Portugis. [2]

Pendudukan Indonesia

Indonesia mulai mengambil alih penjara ini pada tanggal 7 Desember 1974, dan menggunakannya sebagai tempat tahanan para aktivis kemerdekaan, penjahat yang melakukan pelanggaran ringan serta anggota Tentara Nasional Indonesia yang melanggar aturan disiplin. [1] [2]

Penjara tersebut mulai difungsikan untuk menahan orang-orang dari seluruh Timor-Timur pada tahun 1976 dan menjadi satu-satunya penjara di Dili hingga tahun 1986.[1] [2]

Walaupun sejak tahun 1990 pemerintah Indonesia telah memerintahkan pengalihan pengelolaan ke Kementerian Kehakiman, namun hingga tahun 1999, penjara tersebut tetap di bawah kendali Polisi Militer.[1]

Penyiksaan

Selama penjara terseebut aktif, banyak tahanan yang mengaku mengalami berbagai penyiksaan. [1] [2]

Selain itu, masalah kebersihan dan penyakit juga menjadi permasalahan utama di penjara ini. [1]

Berkat intervensi dari Komite Internasional Palang Merah dan Amnesty International pada tahun 1990 maka kondisi tersebut mulai membaik. [1]

Pasca kemerdekaan

Pasca referendum tahun 1999, gedung ini sempat dibakar namun pemerintah Jepang membangun kembali dan menggunakannya untuk kantor Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi di Timor Timur (CAVR: Comissão de Acolhimento, Verdade e Reconciliação de Timor Leste) setelah Timor Leste merdeka. [1]

CAVR adalah sebuah komisi pencarian fakta independen di bawah Pemerintahan Transisional PBB di Timor Leste. Salah satu laporan yang dihasilkan oleh CAVR berjudul Chega! yang kemudian diadopsi menjadi nama museum ini. Laporan Chega! terdiri dari lima jilid dan sudah dicetak oleh Gramedia.[3]

Saat ini, pemerintah Timor Leste menjadikan gedung ini sebagai situs sejarah dan museum dengan nama Centro Nacional Chega!. Museum ini mengusung tema "Merawat Ingatan Membangkitkan Harapan" berfungsi untuk mendokumentasikan sejarah perjuangan kemerdekaan Timor-Leste.[4]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "Comarca Balide Prison: A monument of tragedy". The Jakarta Post. 2009-09-13. Diakses tanggal 2025-07-17.
  2. 1 2 3 4 5 6 Coupland, Emma. "The Comarca Balide Prison: A 'Sacred Building'" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2013-11-05. Diakses tanggal 2025-07-20.
  3. ↑ "Ketika bintang-bintang sejajar dan Timor Timur merdeka". Inside Indonesia: The peoples and cultures of Indonesia (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2026-11-02.
  4. ↑ timor-leste.gov.tl https://timor-leste.gov.tl/?p=49602&print=1&lang=en. Diakses tanggal 2026-11-02.{{cite web}}: |title= tidak ada atau kosong
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan