Rabu, 21 Oktober 2026
19:21 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama

Bahasa tanah

istilah kolektif untuk bahasa daerah di Kepulauan Maluku

Bagikan:

Bahasa tanah (Melayu Ambon:bahasa tana) adalah istilah kolektif untuk bahasa-bahasa asli di Kepulauan Maluku yang saat ini biasanya hanya dipakai sebagai alat komunikasi dalam konteks adat istiadat. Di Pulau Seram dan sekitarnya, bahasa tanah biasanya digunakan saat upacara adat yang disebut panas pela.[1]

Oleh masyarakat Maluku, bahasa tanah dianggap memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan sakral dibandingkan dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Oleh karena itu, bahasa tana di Kepulauan Maluku sebagian besar hanya diketahui dan dipahami oleh penutur yang sudah tua. Di Kepulauan Banda, bahasa tanah digunakan dalam syair atau nyanyian adat yang dikenal dengan sebutan kabata.[2]

Etimologi

Pemilihan kata "tanah" (Melayu Ambon:tana) pada istilah bahasa tanah didasari oleh pemaknaan tanah sebagai 'tempat asal dari kehidupan'. Tanah juga dimaknai sebagai 'pusat kehidupan dan sebagai tempat bertumpu'. Selain itu, istilah "tanah" tersebut merujuk pada aktivitas sakral, yakni acara-acara adat. Tanah dilambangkan sebagai bentuk sakralitas dan keaslian. Oleh karena itu, tuturan-tuturan adat dalam berbagai pelaksanaan upacara adat disebut sebagai bahasa tanah.[3]

Penggunaan

Hingga saat ini, terdapat sekitar 117 bahasa tanah yang tersebar di Provinsi Maluku. Beberapa diantaranya mengalami kepunahan, kebanyakan bahasa tanah yang mengalami kepunahan adalah bahasa tanah yang digunakan oleh negeri-negeri Kristen, baik yang digunakan di Pulau Ambon, maupun di sebagian kecil Pulau Seram. Penggunaan bahasa tanah pada komunitas Kristen Maluku pernah dicatat oleh Rumphius pada tahun 1687, yakni di negeri Hative dan Hitu (negeri Islam). Dalam laporannya, ia mengatakan bahwa bahasa tanah yang digunakan di Hative dan Hitu sangat berbeda sekali dengan bahasa di pulau-pulau yang berdekatan dengannya seperti Ternate, Makassar, dan Banda. Dua bahasa yang telah dicatat oleh Rumphius itu saat ini sudah dinyatakan punah. Sedangkan pada komunitas Islam Maluku, selain masih digunakan secara umum, juga diluncurkan buku Kamus Bahasa Asilulu – Inggris oleh James T. Collins yang telah melakukan penelitian cukup lama tentang punahnya beberapa bahasa tanah di Pulau Ambon.[4]

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ Tuasa, Nurjan; Pattiasina, Petrus Jacob; Lelapary, Heppy Leunard (2020). "FUNGSI BAHASA TANA DALAM UPACARA ADAT PANAS PELA NEGERI RUMAH WEI DAN NEGERI KASIEH KECAMATAN TANIWEL KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT". Mirlam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 1 (1). Ambon, Indonesia: Universitas Pattimura: 121–132. doi:10.30598/mirlamvol1no1hlm121-132. Diakses tanggal 03-06-2024.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  2. ↑ Darman, Faradika (2019). "Kabata dan Bahasa Tana di Kepulauan Banda". Ambon, Indonesia: Staf Teknis Kantor Bahasa Maluku. Diakses tanggal 03-06-2024.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=; Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  3. ↑ Asrif (2019). "Bahasa Tanah". Ambon, Indonesia: Kantor Bahasa Maluku. Diakses tanggal 03-06-2024.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=; Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  4. ↑ Soplanit, Julian (28-03-2011). ""BAHASA TANA" bahasa ibu orang Maluku". juliansoplanit.blogspot.com. Diakses tanggal 03-06-2024.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=

Daftar pustaka


Maluku

Artikel bertopik Maluku ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan