Selasa, 22 September 2026
02:03 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Anjing bertelinga pendek

Anjing bertelinga pendek

Spesies canidae dari Benua Amerika Selatan

Anjing bertelinga pendek[1] (Atelocynus microtis), yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai short-eared dog,[2][3] adalah spesies canidae yang sulit dijumpai dan endemik di lembah Amazon.[2][4] Meskipun dikenal dengan sebutan "short-eared dog" yang secara harfiah berarti "anjing bertelinga pendek" atau "ghost dog" yang berarti "anjing hantu", nyatanya spesies ini bukanlah anjing. Hewan ini hanya memiliki hubungan kekerabatan dalam keluarga canidae (kerabat anjing, rubah, mbetapa) dan merupakan satu-satunya spesies yang termasuk dalam genus Atelocynus.[4][5]

Anjing telinga pendek[4]
250px-Atelocynus_microtis_en_Amazonie_p%C3%A9ruvienne.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Carnivora
Famili: Canidae
Tribus: Canini
Subtribus: Cerdocyonina
Genus: Atelocynus
Cabrera, 1940
Spesies:
A. microtis
Nama binomial
Atelocynus microtis
(Sclater, 1883)
Subspesies
250px-Distribuci%C3%B3n_Atelocynus_microtis.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wilayah sebaran anjing telinga pendek

Etimologi

Ualaka berasal dari kata uálaca (nama spesies ini di habitat aslinya) dari bahasa Yucuna.[6]

Sejarah evolusi dan spesies terdekat

250px-Atelocynus_microtis_en_amazonie_p%C3%A9ruvienne.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Di dalam hutan Amazon

Setelah terbentuknya Tanah Genting Panama pada akhir zaman tersier, sekitar 2,5 juta tahun yang lalu pada periode pliosen, kelompok canidae mulai bermigrasi dari Amerika Utara ke benua bagian selatan sebagai hasil dari fenomena yang dikenal sebagai Pertukaran Besar Amerika. Nenek moyang ualaka beradaptasi dengan kehidupan di hutan hujan tropis, mengembangkan berbagai ciri morfologi dan anatomi yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di lingkungan tersebut. Meskipun ualaka memiliki sedikit kesamaan dengan mbetapa, sebenarnya kerabat terdekat mereka yang masih ada saat ini adalah maikong.[7] Ualaka merupakan spesies yang paling berbeda dengan canidae lainnya.[6]

Saat ini, terdapat dua spesies ualaka yang telah diidentifikasi, yaitu [4] A. m. microtis dan A. m. sclateri.

Agihan dan habitat

250px-Manu_riverbank.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Manú National Park, Madre de Dios, Peru

Ualaka dapat ditemukan di hutan hujan Amazon, yang terletak di Amerika Selatan, tepatnya di negara-negara seperti Brasil, Bolivia, Peru, Kolombia, Ekuador, dan mungkin juga Venezuela.[4] Ada sebuah laporan akan terlihatnya tiga hewan berbadan ramping seperti anjing di wilayah Provinsi Darién, Panama pada tahun 1984 oleh seorang ahli biologi yang bernama Sigi Weisel dan seorang penduduk asli dari Suku Embera di Panama: kehadiran spesies langka ini di Panama bisa dimungkinkan karena habitat hutan yang luas yang menutupi wilayah ini.[3] Ualaka hidup di berbagai lingkungan hutan hujan dan lebih menyukai daerah yang jarang dijamah manusia. Hewan ini tinggal di hutan dataran rendah yang dikenal dengan nama Floresta Amazônica dan hutan terra firme serta di hutan rawa, rumpun bambu dan hutan pegunungan.[8] Ualaka tergolong hewan yang soliter. Mereka lebih senang tinggal di bawah naungan pepohonan, juga menghindari interaksi dengan manusia dan interaksi dengan hewan lainnya.[9]

Karakteristik

250px-Atelocynus_mecrotis_%28Small_eared_fox%29_fur_skin.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kulit bulu ualaka (Atelocynus microtis), koleksi kulit bulu, Bundes-Pelzfachschule, Frankfurt/Main, Germany
250px-Shortdogskull.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tengkorak ualaka

Hewan ini memiliki kaki yang pendek, telinga yang kecil, tubuh yang ramping, serta ekor yang tebal. Moncongnya mirip dengan moncong rubah. Sebagian cakar pada ualaka dilengkapi dengan selaput yang memudahkan hewan ini untuk beradaptasi dengan habitatnya yang umumnya adalah lingkungan akuatik.[10]

Warnanya bervariasi mulai dari gelap hingga abu-abu kemerahan, dan bisa juga tampak hampir biru tua, coklat kopi, abu-abu gelap, atau bahkan abu-abu kastanye yang membaur menjadi hitam. Bulu hewan ini pendek, terdiri dari lapisan yang tebal dan kasar.[6] Dada hewan ini terlihat agak sempit, dengan warna gelap di bagian toraks yang berpadu dengan nuansa lebih cerah dan kemerahan di sisi perutnya.

Pola makan

Canidae jenis ini umumnya adalah karnivora, dengan ikan, serangga, dan mamalia kecil menjadi bagian utama dari diet mereka. Sebuah penelitian yang dilaksanakan di Stasiun Biologi Cocha Cashu di Peru mengenai proporsi berbagai jenis makanan dalam pola makan hewan ini menghasilkan temuan sebagai berikut:

ikan28%burung10%
serangga17%kepiting10%
mamalia kecil13%katak4%
berbagai buah-buahan10%reptil3%

Perilaku dan perkembangbiakan

Spesies ini menampilkan berbagai perilaku unik yang tidak lazim ditemukan pada canidae lainnya. Betina dari spesies ini memiliki ukuran yang sekitar sepertiga lebih besar dibandingkan jantannya. Sementara itu, jantan yang penuh semangat akan menyemprotkan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar di ekornya. Mereka cenderung memilih gaya hidup soliter di kawasan hutan dan menghindari keberadaan manusia di habitat alaminya. Apabila merasa gelisah, jantan akan mengangkat bulu-bulu di punggungnya sebagai sebuah respon.[11]

Umur dan kehamilan pada ualaka masih menjadi misteri. Meskipun begitu, mereka mencapai kematangan seksual pada usia tiga tahun. Hal itu terbilang relatif terlambat jika dibandingkan dengan spesies canidae lainnya.[12]

Ancaman, kelangsungan hidup, dan masalah ekologi

Anjing liar merupakan ancaman serius bagi populasi ualaka. Mereka dapat menyebarkan penyakit anjing dan rabies pada populasi ualaka. Di samping itu, ualaka juga sangat terpengaruh oleh hilangnya habitat mereka oleh anjing-anjing liar ini.

Hutan-hutan di Amerika Selatan yang dulunya rindang kini mengalami gangguan yang begitu serius dan mengkhawatirkan. Hampir tak ada lagi habitat alami yang tersisa, kecuali di area-area yang setiap hari terancam oleh aktivitas pemukiman maupun penambangan. Kehadiran manusia turut menyumbang pada kepunahan ualaka dengan merusak habitat alami mereka dan mengganggu ekosistem hutan hujan tropis secara keseluruhan.

Status konservasi

Ualaka saat ini telah masuk dalam daftar hampir terancam oleh IUCN.[2] Sayangnya, belum ada penelitian ekologi dan genetik yang menyeluruh yang dilakukan terhadap spesies ini.

Referensi

  1. Safira, Nur Aulia (6 Maret 2024). "6 Fakta Anjing Bertelinga Pendek". IDN Times. Diakses tanggal 12 Mei 2026.
  2. 1 2 3 4 Leite-Pitman, M.R.P.; Williams, R.S.R. (2011). "Atelocynus microtis". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2011 e.T6924A12814890. doi:10.2305/IUCN.UK.2011-2.RLTS.T6924A12814890.en. Diakses tanggal 19 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Rosa, Carlos L. de la; Nocke, Claudia C. (2010-06-28). A Guide to the Carnivores of Central America: Natural History, Ecology, and Conservation (dalam bahasa Inggris). University of Texas Press. ISBN 978-0-292-78951-7.
  4. 1 2 3 4 5 Wozencraft, W. C. (2005-11-16). Wilson, D. E., and Reeder, D. M. (eds) (ed.). Mammal Species of the World (Edisi 3rd edition). Johns Hopkins University Press. ISBN 0-8018-8221-4.{{cite book}}: |edition= memiliki teks tambahan; |editor= memiliki nama generikPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link)
  5. "The Amazon's 'Ghost Dogs' Face 30 Percent Habitat Loss". Smithsonian magazine (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-01.
  6. 1 2 3 Renata Leite Pitman; Robert S.R. Williams (2004). "The short eared dog (Atelocynus microtis) (Sclater, 1883)". Dalam Claudio Sillero-Zubiri; Michael Hoffmann; David W. Macdonald (ed.). Canids: Foxes, Wolves, Jackals and Dogs: Status Survey and Conservation Action Plan (Edisi 2004). IUCN, World Conservation Union. hlm. 26–31. ISBN 9782831707860.
  7. Chavez, D.E.; Gronau, I.; Hains, T.; Dikow, R.B.; Frandsen, P.B.; Figueiró, H.V.; Garcez, F.S.; Tchaicka, L.; de Paula, R.C.; Rodrigues, F.H.G.; Jorge, R.S.P.; Lima, E.S.; Songsasen, N.; Johnson, W.E.; Eizirik, E.; Koepfli, K.P.; Wayne, R.K. (2022). "Comparative genomics uncovers the evolutionary history, demography, and molecular adaptations of South American canids". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 119 (34): e2205986119. Bibcode:2022PNAS..11905986C. doi:10.1073/pnas.2205986119. PMC 9407222. PMID 35969758.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  8. "Atelocynus microtis (Short-eared Dog, Short-eared Fox, Small-eared Dog, Small-eared Zorro)". redlist.org. Diakses tanggal 2015-10-05.
  9. Giaimo, Cara (4 Mei 2020). "The ghost dogs of the Amazon get a bit less mysterious". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 13 Mei 2020.
  10. "Atelocynus microtis: Information". ADW: Animal Diversity (animaldiversity.ummz.umich.edu). University of Michigan. Diakses tanggal 2015-10-05.
  11. "Ecology and conservation of the short-eared dog (Atelocynus microtis)". Peru: Estación Biológica Cocha Cashu [Cocha Cashu Biological Station]. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Oktober 2012. Diakses tanggal 10 Juli 2024 via Duke University (duke.edu).
  12. "Short-eared dog? Uncovering the secrets of one of the Amazon's most mysterious mammals". Mongabay Environmental News (dalam bahasa American English). 28 Juli 2014. Diakses tanggal 25 Juli 2020.

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Atelocynus microtis.
Wikispecies mempunyai informasi mengenai Atelocynus.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan