Rabu, 28 Oktober 2026
05:43 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Animalisme (filsafat)

Bagikan:

Dalam subdisiplin filsafat yang dikenal sebagai ontologi, animalisme merupakan sebuah teori tentang identitas personal yang berpendapat bahwa manusia pada hakikatnya adalah hewan (animals) dalam arti biologis dan ontologis yang paling mendasar.[1] Menurut pandangan ini, keberadaan manusia tidak dapat dipisahkan dari statusnya sebagai organisme hidup dari spesies Homo sapiens, dan identitas seseorang ditentukan oleh kontinuitas kehidupan biologisnya, bukan oleh kondisi psikologis atau kesadaran subjektif.

Konsep animalisme banyak dikembangkan dan dipertahankan oleh sejumlah filsuf terkemuka, termasuk Eric T. Olson, Peter van Inwagen, Paul Snowdon, Stephan Blatti, David Hershenov, dan David Wiggins.[2] Mereka berpendapat bahwa teori ini memberikan landasan yang lebih konsisten dalam menjelaskan persoalan identitas diri dibandingkan dengan pandangan-pandangan yang menitikberatkan pada aspek mental atau spiritual manusia. Dalam konteks ini, animalisme sering diposisikan sebagai tandingan terhadap kriteria psikologis identitas personal yang diajukan oleh John Locke, yang menekankan kesinambungan memori dan kesadaran sebagai dasar identitas diri, serta terhadap berbagai bentuk dualisme pikiran-tubuh, seperti yang dikemukakan oleh Richard Swinburne, yang menganggap eksistensi manusia terdiri atas dua substansi terpisah: tubuh dan jiwa.

Argumen Makhluk Berpikir (Thinking-Animal Argument)

Salah satu argumen yang paling dikenal dalam mendukung animalisme adalah apa yang disebut argumen makhluk berpikir (thinking-animal argument). Argumen ini berupaya menunjukkan bahwa manusia, sebagai makhluk yang berpikir, tidak dapat dipisahkan dari statusnya sebagai organisme biologis. Bentuk dasar dari argumen ini adalah sebagai berikut:[3]

  1. Dalam suatu ruang tertentu, terdapat seorang person (individu manusia) yang menempati ruang tersebut, dan pada saat yang sama juga terdapat seekor hewan dari spesies Homo sapiens yang menempati ruang yang sama.
  2. Hewan Homo sapiens tersebut berpikir.
  3. Individu manusia yang menempati ruang tersebut juga berpikir.
  4. Oleh karena itu, individu manusia tersebut adalah hewan Homo sapiens itu sendiri.

Argumen ini menolak gagasan bahwa terdapat dua entitas berbeda—yakni person dan animal—yang kebetulan menempati ruang yang sama. Sebaliknya, animalisme menegaskan bahwa manusia sebagai makhluk berpikir adalah organisme biologis yang berpikir, bukan entitas non-fisik yang menumpang pada tubuh biologisnya.

Penggunaan Istilah dalam Etika

Selain dalam ontologi, istilah animalisme juga digunakan, meskipun lebih jarang, dalam bidang etika, untuk merujuk pada pandangan moral yang berpendapat bahwa seluruh hewan, atau sebagian besar hewan, memiliki nilai moral yang layak dipertimbangkan.[4] Dalam pengertian ini, animalisme mengacu pada keyakinan bahwa makhluk hidup non-manusia memiliki hak moral yang inheren, dan oleh karena itu, tindakan manusia terhadap hewan harus mempertimbangkan penderitaan, kesejahteraan, dan kepentingan mereka.

Pandangan etis ini memiliki kemiripan dengan sentientisme, yakni doktrin yang menyatakan bahwa semua makhluk yang memiliki kemampuan untuk merasakan (sentience) layak mendapatkan pertimbangan moral. Namun, animalisme dalam pengertian etis tidak selalu identik dengan sentientisme, karena tidak semua varian animalisme menekankan kemampuan merasakan sebagai syarat utama bagi nilai moral.

Dengan demikian, animalisme merupakan istilah yang memiliki dua konteks utama:

(1) dalam ontologi, ia merujuk pada teori identitas personal yang menegaskan manusia sebagai organisme biologis; dan

(2) dalam etika, ia mencerminkan pandangan moral yang memperluas cakupan pertimbangan etis terhadap hewan. Kedua penggunaan tersebut, meskipun berbeda fokus, sama-sama menekankan keterkaitan mendalam antara manusia dan dunia hewan sebagai bagian integral dari pemahaman kita tentang eksistensi dan moralitas.

Referensi

  1. ↑ Garvey, James (2010-04). "Reviews - What Are We? A Study in Personal Ontology By Eric T. Olson Oxford University Press, 2007, pp. ix+250, £30". Philosophy. 85 (2): 299–302. doi:10.1017/s0031819110000112. ISSN 0031-8191.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  2. ↑ Blatti, Stephan; Snowdon, Paul F., ed. (2016-07-28). "Animalism". doi:10.1093/acprof:oso/9780199608751.001.0001.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  3. ↑ "Wayback Machine" (PDF). www.sheffield.ac.uk. Diakses tanggal 2025-11-07.{{cite web}}: Kutipan menggunakan judul generik
  4. ↑ Blatti, Stephan (2020). Zalta, Edward N. (ed.). Animalism (Edisi Fall 2020). Metaphysics Research Lab, Stanford University.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan